Semalam di Rangkasbitung

Weekend kemarin saya menghabiskan malam minggu di kota Rangkasbitung, yang merupakan ibukota kabupaten Lebak. Perjalanan menuju Rangkasbitung saya tempuh lebih kurang 2 jam, naik commuterline dari stasiun Tanah abang menuju stasiun Rangkasbitung. Dari stasiun, saya kemudian berjalan kaki menuju alun-alun. Alun-alun menjadi saksi bisu bagi remaja-remaja tanggung menghabiskan malam keramat.

IMG20171007193152

 

Selanjutnya, saya berjalan kaki menuju sisi lain alun-alun, menuju Museum Multatuli dan Perpustakaan Saidjah Adinda. Bangunan megah ini dibangun untuk mengenang jasa Douwes Dekker atau Multatuli, sang penulis Max Havelaar yang juga pernah menjabat sebagai residen Lebak.

Advertisements

Pesta Hoyak Tabuik 2017

Akhir pekan kemarin saya menghabiskan waktu dengan mengunjungi Sumatera Barat. Saya datang ke Kota Pariaman untuk menyaksikan pesta Hoyak Tabuik 2017 yang diselenggarakan sejak tanggal 20 September 2017 s.d. 1 Oktober 2017. Beruntung saya datang saat perayaan puncak pesta Hoyak Tabuk tanggal 1 Oktober 2017 yang digelar di Pantai Gandoriah.

Tabuik merupakan tradisi perayaan Syiah yang mengadopsi perayaan Karbala. Diceritakan bahwa pada tanggal tersebut, cucu Nabi Muhammad SAW, Husein gugur di medan perang Karbala. Terlepas dari semuanya, Pemda Sumbar, dalam hal ini Pemkot Pariaman telah menjadikan Festival Tabuik sebagai agenda rutin tahunan yang dapat mengangkat citra pariwisata Pariaman.

Ribuan pengunjung dari berbagai wilayah datang memenuhi Pantai Gandoriah untuk menyaksikan ajang tahunan tersebut. Sebagian di antaranya merupakan turis mancanegara. Berikut beberapa foto saya selama perjalanan singkat ke Pariaman dan Padang. Alhamdulillah perjalanan lancar dan menyenangkan.

 

 

 

Maybank Bali Marathon 2017

Untuk kedua kalinya, saya mengikuti Maybank Bali Marathon 2017. Sesuai tagline-nya, “New Adventure”, rute kali ini berbeda. Lebih banyak tanjakan, lebih berat, dan lebih menantang. Melintasi 2 kabupaten, yaitu Gianyar dan Klungkung.

Catatan waktu finish saya adalah 6 jam 35 menit. Secara umum, saya berada di peringkat 1507. Alhamdulillah…

 

#7MissionsBNI #DebitOnlineTim

Sabtu, 5 Agustus 2017 yang lalu saya mendapatkan kesempatan mengikuti ajang #7MissionsBNI yang diadakan dalam rangka memperingati ulang tahun ke-71 BNI.

Saya tergabung di Tim Debit Online bersama Arif, Nopri, Prima, Rina, Andi, dan Dian. Kami bertujuh dan 9 tim lainnya diwajibkan menyelesaikan 7 misi dalam waktu sekitar 8 jam. Ketujuh misi tersebut berlokasi di 7 tempat berbeda. Untuk menuju tempat yang saling berjauhan, kami hanya boleh menggunakan trabsportasi bus transjakarta atau kereta commuterline. Untuk itu, panitia menyiapkan tapcash BNI senilai 75ribu dan uang makan siang senilDGbJoyRUwAAiUMM_002ai 75ribu per peserta.

Start di Wisma BNI Jalan Sudirman, kami menuju Pos 1 di Stasiun Sudirman dengan berjalan kaki. Tantangan yang harus dilakukan di Pos 1 adalah berfoto bersama Banner BNI dan kemudian melaporkan kepada Penjaga Pos 1. Setelah itu, Penjaga POs mengajukan pertanyaan berupa tebak nilai mata uang lama.

Dari Pos 1 kami beranjak ke POs 2 di Monas naik bus transjakarta.Tantangan yang harus kami selesaiakn di Ps 2 adalah berfoto bersama3 patung Pahlawan yang ada di Monas. Jarakj antar patung cukup jauh sehingga kami harus berjalan mengelilingi area monas. Sebagai tim pertama yang mencapai arena MOnas, kami diliput oleh  wartawan. Tugas lain yang harus kami selesaikan di Pos 2 adalah menjawab pertanyaan seputar mata uang, nama ikan, dll.

Melaju ke Pos 3, yang berlokasi di Menara Syahbandar Kota Tua. Kembali kami menggunakan transjakarta dan melanjutkan dengan jalan kaki. Sampai di sana, kami diminta mencari letak batu hitam penanda titik nol kilometer Jakarta dan kemudian menyanyikan lagu Nenek Moyangku Orang Pelaut. Setelah itu, kami diminta membuat ucapan ulangtahun BNI yang ke-71 dan gambar logo BNI yang lama versi kapal. Kami menuliskan ucapan dalam beberapa bahasa, Jawa, Sunda, Inggris, Arab, dan Jepang.

Selanjutnya, perjalanan menuju POs 4 kami tempuh dengan kereta commuterline tujuan Jakarta Kota – Cikini. Dari stasiun Cikini, kami berjalan menuju Tugu Proklamasi. Tantangan di POs 4 ini adalah membuat koreografi 71. Kami berpose jongkok, tidur, dan berdiri.

Lantas di Pos 5, yang berlokasi di  Family Mart Blok M. Kami diwajibkan belanja 7 produk dengan total 71 ribu. Lega rasanya ketika kami berhasil menyelesaikan.

Di Pos ke-6, Gelora Bung Karno, kami diwajibkan menjawab pertanyaan seputar ASian Games.

Pos terakhir, BNI PlazaSemanggi. Kami diwajibkan melakukan setor tunai senilai 71 ribu via teller dan melakukan top up tapcash senilai 70ribu. Welldone!

Kembali ke Wisma BNI, kami diajak naik ke rooftop lantai 33 untuk foto di area helipad.Selesai sesi foto, kami kembali ke lantai 25 untuk menikmati dinner dan ramah tamah sekaligus pengumuman pemenang. Tim kami menjadi peringkat 7 dnegan hadiah senilai 2,1 juta atau 300ribu per orang. Alhamdulillah.

Seminggu kemudian, Tim Debit Online kembali bertemu di Pizza Marzano Grand INdonesia untuk reuni. Yeayy. Seru-seruan dan dapat teman baru yang asyik. Selamat ulang tahun, BNI!

 

Pendakian Gunung Semeru

Pertengahan Mei yang lalu, saya kembali bergabung dengan Open Trip Bang Aang mengikuti pendakian Semeru. Setelah Gunung Guntur dan Prau, ini adalah ketiga kalinya saya bergabung. Jumlah peserta cukup banyak. 28 orang kalau tidak salah. Terbagi menjadi 3 area, Jakarta, Malang, dan Makassar.

Dari Jakarta, kami berangkat hari Rabu, 10 Mei 2017 sekitar Pukul 15.15 WIB menggunakan Kereta api Matarmaja dari Stasiun Pasar Senen. Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 17 jam. Kami tiba di Stasiun Malang keesokan harinya sekitar jam 8 pagi. Dari stasiun Malang, kami naik angkot carteran yang telah dicarter oleh Panitia Malang (Maya) menuju ke Tumpang.

Di Tumpang kami menunggu jeep di rumah keluarga entahlah siapa namanya. Sambil menunggu, saya sempat membersihkan badan. Mandi ala ala tanpa sabun dan sikat gigi (pakai sikat gigi anak pemilik rumah). Selebihnya, sempat sarapan pecel di warung Ijo.

Sekitar jam 10an kami berangkat menuju Ranupani dengan jeep. Jeep di tengah jalan sempat mogok. Ngeri. Bayangin aja, mogok di kiri kanan jurang.

Sampai di Ranupani, kami harus mengikuti briefing dari Saver (Sahabat Volunteer Semeru). Ya Allah, briefingnya serem banget. Diceritakan gambaran pendakian menuju puncak dengan segala risikonya beserta para korban meninggal/patah tulang. Dari situ, saya agak down sih.

Sekitar jam 4 sore, kami meninggalkan Ranupani menuju Ranukumbolo. Perjalanan ditempuh lebih kurang 5 jam. Hati-hati karena salah sedikit bisa terperosok ke jurang. Jalanan yang gelap memaksa kami harus menyalakan headlamp.

Sampai di Ranukumbolo, kami masih menunggu Panitia yang membawa tenda. Rupanya, Bang Bolot dan Bang Tyong yang membawa tenda belum sampai. Pada akhirnya, setelah tenda berdiri, kami terbagi menjadi 5 tenda. Saya bergabung dengan peserta lain dalam tenda berkapasitas 15 orang.

Udara Ranukumbolo sangat dingin, menembus 6 derajat celcius. Saya merasakan kedinginan yang luar biasa meskipun telah memakai jaket, sarung tangan, sleeping bag, kupluk, dan buff.

Keesokan paginya, tampak kabut menyelimuti danau. Sambil menunggu sarapan, kami sempat foto-foto manja. Sarapan telah disediakan oleh Panitia. Kami pun menyantap sarapan dengan nikmat. Tempe goreng ala Ranukumbolo nan nikmat sebagai persiapan sebelum meneruskan perjalanan ke Kalimati.

Untuk menuju Klaimati, kami membutuhkan waktu hampir 5 jam. Berhenti di setiap pos dan membeli semangka/air minum. Harga sepotong semangka sama di setiap pos, yaitu  2.500. Sementara harga air semakin ke atas semakin mahal. Dari 10 ribu sampai 20 ribu.

View yang dilewati bagus. Ada Tanjakan Cinta yang konon kalau kita memikirkan orang yang kita cintai, dia akan jadi jodoh kita. Ah, saya lupa mikirin siapa waktu itu. Kemudian ada Oro-Oro Ombo yang berisi padang Verbena Brasiliensis Vell yang berwarna ungu. Kita bisa foto-foto cantik nan manja di tengah padang ungu tersebut. Selepas Oro-Oro Ombo, kami disuguhi deretan pohon cemara yang disebut Cemoro Kandang. Pos selanjutnya yaitu Jambangan dan terakhir Kalimati.

Setibanya di Kalimati, saya mencoba tidur untuk mengumpulkan tenaga agar malamnya bisa ikut muncak. Namun, meskipun sudah berusaha memejamkan mata, pikiran melayang-layang, rasa was-was serta khawatir melanda. Sampai jam 10 malam lebih, saya tak bisa tidur. Pada akhirnya, saya memutuskan tidak ikut muncak.Tingkat keyakinan saya merosot drastis.

Keesokan paginya kami mendapat info adanya korban meninggal tertimpa batu setengah badan. Korban kebtulan mendirikan tenda tak jauh dari tenda kami. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Dalam hati saya bersyukur karena memutuskan tidak muncak. Kembali dengan sehat dan selamat dari Semeru itulah yang paling penting buat saya. Alhamdulillah.

 

 

Weekend Getaway ke Tebing Keraton – Tahura

Hari Minggu kemarin, 05 Maret 2017, saya melakukan perjalanan singkat ke Tebing Keraton. Untuk menuju ke sana, saya menggunakan jasa abang gojek untuk mengantarkan saya dari  Chez Bon Hostel menuju ke Tebing Keraton. Namun, rupanya abang gojek nggak tahu lokasi Tebing Keraton. Jadinya kami nyasar sampai ke Jalan Tangkuban Perahu, Lembang. Harapan untuk melihat sunrise pun sirna. Saya tiba di Tebing Keraton sudah menjelang jam 7 pagi, saat matahari sudah tinggi dan kabut sudah menghilang.

Saya kemudian jalan-jalan di ladang warga. Hamparan kebun kol dan tomat segar dipandang dan menyejukkan mata. Warna hijau terhampar dengan indahnya. Saya mengabadikan banyak foto dan berlari-lari kecil di sekitar kebun. Jalanan becek selepas hujan membuat sepatu kotor.

Dari ladang, saya kemudian menuju ke rumah warga untuk menanyakan di manakah Tebing Keraton? Salah seorang anak kecil yang saya tanya bilang kalau Teing Keraton sudah kelewatan. Oke, saya akhirnya memutuskan lari pagi dari atas ke bawah. dengan aplikasi NRC, saya menghitung setiap jengkal kaki yang terlewati. Tiba di kilometer ke-3 saya berhenti untuk minum air kelapa seharga 15rebu.

Setelah puas minum, saya melanjutkan berlari sampai ke Pintu Masuk Taman Hutan Raya Djuanda. Saya tertarik untuk masuk ke lokasi Taman. Di dalam, saya berselfie di tengah rimbunnya pohon pinus. Ada rombongan ibu-ibu yang sedang senam. Ada juga rombongan keluarga yang sedang menikmati hammock.

Sekitar jam 9 saya meninggalkan area Tahura dan melanjutkan perjalanan pulang ke Chez Bon Hostel. Tapi di tengah jalan saya mampir ke Pangkas Rambut. Lumayanlah ya dapat bonus pijitan di kepala. Rasa lapar melanda, saya memutuskan ke Kedai Mamah Eha yang berlokasi di depan Gereja Maulana Yusuf. Saya menikmati paket Sunda beserta petai dan sambel zuper. enak!

Pernikahan Reza

 

Sabtu, 7 Januari 2017 yang lalu, saya menyempatkan hadir di pernikahan salah satu sahabat saya, Reza yang digelar di Haurgeulis, Indramayu. Jauh-jauh hari sebelum acara sakral ini berlangsung, saya telah bertekad untuk datang ke nikahannya. “Za, nanti kalau kamu nikah, jangan lupa undang aku ya.” Itu pesanku padanya setahun lalu. Dan, sebulan sebelum pernikahan, Reza mengabari bahwa dia akan menikah.

Reza adalah salah satu sahabat dekat saya dalam setahun ini. Selama hampir 6 bulan ia memberi tebengan tiap pagi. Setelah dia pindah kost, kami masih sering bertemu, baik di kantornya atau di kantorku.

Teriring dia tulus untuk kalian, Reza dan Fuji, barokallohu lakuma wabaroka ‘alaikuma wajamaa bainakuma fi khoir. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Amiiin.

 

img20170107103029

Menuju Puncak Bintang

Ahad kemarin, 15 Januari 2017 saya jalan-jalan ke Bukit Moko Puncak Bintang. Betemankan abang gojek, kami berangkat dari Chez Bon Hostel di Jalan Braga menuju Bukit Moko sekitar jam 05.30 WIB. Sebelum sampai di lokasi, saya diajak main ke rumah abang gojek untuk berganti motor gede. Abang bilang kalau pakai motor kecil nggak akan sanggup mencapai Puncak Bintang.

 

Akhirnya, kami berhasil mencapai Puncak Bintang. Untuk masuk ke areal, kami diwajibkan membayar tiket masuk seharga Rp 15.000,- per orang. Di dalam kita bisa puas berfoto di areal Hutan Pinus ataupun naik ke Dermaga Bintang. View Bandung Kota yang dikelilingi deretan

pegunungan tampak indah. Cocok buat kalian yang mau prewedding atau sekadar melepas penat. Cusss

Gunung Prau

Yeay!! Liburan Natal 2016 kali ini berkesempatan naik gunung lagi. Lagi? iya, lagi…. sebulan ini udah 2 kali lho naik gunung. Mau jadi apa hidupku ini?

Okay, pendakian kali ini saya bergabung dengan kedua Bu Lik saya, Triyani dan Kasiani serta 4 orang lainnya, Bang Aank, Bang Noenk, Mbak Liza, dan Aa’ Hadi.

Singkat kata singkat cerita pendakiannya berjalan menyenangkan. Trek Pathak Banteng benar-benar bikin happy. Jalurnya sudah jelas banget kok. Tinggal lurusss selurus rambut Mbak Anggun. Start dari basecamp sekitar jam 09.30, sampai di Puncak jam 13.00 lewat dikit sih. kenapa lama? tentu saja banyak foto.

Sepanjang perjalanan bertemu banyak pendaki lain. Ada rombongan ABG gahul yang kita semangatin. “Semangat kakak!” eh, mereka nyahut… semangat saja tidak cukup, Kak. ahahaha… iyasih, butuh energi ekstra coy. ada lagi pendaki yang bilang, 5 menit lagi sampai. Iya, sampai sesampainya aja .

Begitu sampai di tenda, menyiapkan bahan untuk masak-masak. Saya males keluar tenda karena saking dinginnya udara. Malam cuma keluar buat buang air kecil.

And …. keesokan harinya dapat Golden sunrise!! Inilah beberapa foto keindahan dari Puncak Prau. Kalau sudah begini, yakin betah di rumah aja?

Pendakian Gunung Guntur 2-4 Desember 2016

2-4 Desember 2016, saya bergabung dengan kedua Bu Lik saya, Triyani dan Kasiani mengikuti trip ke Gunung Guntur. Saya juga mengajak sahabat saya, Uda Rio. Kami berangkat dari Jakarta  hari Jumat tengah malam sekitar pukul 22.30 dari meeting point di Pom Bensin Palmerah. Naik mobil tronton TNI dengan 28 orang lainnya. Uyel-uyelan udah kayak sarden yah. Singkat cerita, abang sopir mengendarai tronton dengan kecepatan maksimeum. Kami tiba di Garut, pada hari Sabtu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Karena lapar, saya memesan indomie goreng di warung Bu Tati. Beberapa peserta melanjutkan tidur ayam yang tertunda sepanjang perjalanan Jakarta – Garut.

Pendakian dimulai sekitar pukul 05.00 WIB.  Sepanjang perjalanan banyak view menarik dan menjadi objek foto yang instagramable. Kami tiba di Pos 3 sekitar pukul 09.30 WIB. Lega rasanya melewati semak belukar dan trek yang cukup sulit. Kami pun beristirahat menuju tenda yang telah disiapkan Panitia. Sempat tidur sebentar, acara dilanjutkan dengan masak-masak untuk makan siang. Makan siang ala kadarnya: nasi, sop, tempe goreng, dan ikan asin serta sambal yang dibawa Bu Lik saya. Makan apa aja rasanya enak kalau di gunung. Malam harinya kami duduk-duduk menikmati pemandangan Kota Garut dari ketinggian. Kerlap-kerlip lampu membuat romantisme malam minggu tersendiri. Kami bercanda tawa sampai sekitar jam 20.00 saat makan malam siap.

Jam 02.30 hari Minggu pagi kami dibangunkan untuk bersiap menuju Puncak. Saya sempatkan ke kali untuk cuci muka, sikat gigi, dan berwudhu. Udara dingin menyeruak. Sekitar pukul 03.30 kami berangkat menuju Puncak. Dengan bantuan headlamp, kami mendaki dalam gelap dengan pelan-pelan melewati jalanan berkerikil nan licin. Khawatir terpeleset dan terperosok ke jurang sih ya.  Azan subuh terdengar di tengah perjalanan. Saya menyempatkan sholat di antara rerumputan dengan posisi miring. Selepas sholat, saya mengejar teman-teman dan melanjutkan pendakian. Matahari mulai memancarkan sinarnya saat kami tiba di puncak. Sunrise. Alhamdulillah… berkesempatan untuk menikmati indahnya lukisan alam Yang Mahakuasa. Di atas, kami mengambil banyak foto untuk mengabadikan momen. Kami juga sempat merekam video ala Mannequin Challenge yang sedang kekinian. Sekitar jam 09.00 kami turun, kembali ke tenda di Pos 3. Perjalanan turun tak kalah susah dengan perjalanan naik. memang sih saya bisa meluncur/prosotan di kerikil. Tapi, beberapa kali saya terpeleset…hampir kebablasan.  Sampai di pos, saya mandi di kali, ganti baju dan kembali ke tenda. Menu sarapan kali ini enak banget, sarden, mie goreng, dan kering tempe.

Jam 11 kami turun dari Pos 3. Sekitar jam 13 kami sampai di basecamp.  Mandi, istirahat, sholat, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke terminal Guntur naik colt buntung. Mengenang zaman SD. Bahagia. Kami kembali ke Jakarta dengan bus Primajasa jurusan Garut – Lebakbulus. Saya turun di Pasarrebo sekitar pukul 21.00. Terima kasih, abang-abang Panitia dan teman-teman baik selama perjalanan. Seampai jumpa di trip selanjutnya. Insyaallah.