Berakhir di STAN?

Apa cita-cita kalian waktu masih kecil?

Waktu masih SD, saya pernah ingin menjadi pelayan restoran. Pikiran polos itu muncul ketika melihat pelayan restoran di Pasar Kutoarjo tengah menyajikan soto panas kepada pelanggan.  “enak ya jadi pelayan restoran, bisa tiap hari makan soto”. Kala itu, soto memang menjadi makanan yang mewah buat keluargaku yang sederhana. Untuk bisa makan ayam, dibutuhkan momen spesial seperti Maulidan, Selikuran (21 Ramadan), Lebaran, atau Kendurian.

Beranjak lebih besar, ketika ditanya tentang cita-cita, saya seringnya menjawab “dokter, insinyur, pilot, atau guru”. Ketika masa SMA, cita-cita saya mengalami perubahan. Terinspirasi dari mata pelajaran Tata Negara yang membahas mengenai Hubungan Internasional, saya sempat berkhayal menjadi seorang diplomat. Alangkah senangnya jika jadi diplomat, bisa keliling dunia.

Namun, harapan tak selalu seindah kenyataan bukan?

Ketika lulus SMA, saya dihadapkan pada kenyataan, mau ngapain ya setelah lulus SMA ini? Kuliah atau kerja? Kalau kuliah, saya tak ada biaya. Sempat terpikir untuk merantau ke Jakarta, kerja apa saja. Saya seumur-umur belum pernah ke Jakarta kala itu.

Saya kemudian  ikut arus ketika teman-teman SMA mengajak daftar kuliah di  STAN. Dengan bus carteran milik ayah teman saya, kami beramai-ramai meninggalkan Purworejo menuju kota Yogyakarta untuk mendaftarkan diri di Balai Diklat Keuangan Yogyakarta.

Untuk mengambil formulir pendaftaran, kami harus antre sekitar 4 (empat) jam. Antrean kala itu masih manual sekali.  Setelah mendapatkan formulir, kami harus mengisi pilihan jurusan berupa 3 jurusan D3 dan 3 Jurusan D1. 3 Jurusan D3 yang saya pilih adalah: 1. Kepabeanan dan Cukai  (Bea Cukai); 2. Pajak; dan 3. Kebendaharaan Negara. Kenapa memilih Bea Cukai, karena saya melihat peluang untuk diterima di jurusan Bea Cukai lebih terbuka. Bea Cukai mensyaratkan peserta adalah laki-laki dan tinggi minimal 165 cm.

Begitulah akhirnya, saya lulus tes tertulis yang diumumkan sekitar sebulan sejak pelaksanaan tes. Saya dinyatakan diterima di pilihan pertama, Bea Cukai. Namun, saya belum diterima sepenuhnya karena harus menjalani tes tahap kedua berupa tes fisik. Memang, khusus Bea Cukai, selain diwajibkan lulus tes tertulis, juga harus lulus tes fisik. Saya lalu mengikuti tes lari 12 menit, lari angka 8, push up, sit up, pull up, tes buta warna, serta pemeriksaan fisik.

Pengumuman tes fisik saya ketahui melalui telepon. Pada hari H Pengumuman, saya bolak-balik ke wartel di kecamatan Kemiri dan Wartel di desa saya. Sekitar jam 13.00, saya mendapatkan informasi kelulusan saya. Sore harinya, saya bersama ayah saya pun berangkat ke Jakarta untuk melakukan daftar ulang di kampus STAN. STAN, I’m coming.

 

Cerita Masa SD

Apa kenangan terindah kalian waktu SD?

Kalau aku, ada beberapa kenangan indah yang kukenang selama SD. Beberapa kenangan itu terjadi waktu kelas 6. Mulai dari guru, sahabat, sampai prestasi akademik. Semua begitu indah dikenang.

Guru

Guru kelasku, Bu Ami terkenal paling galak dan disiplin kepada murid-muridnya. Itu juga yang kurasakan ketika akhirnya aku diajar beliau. Beliau rajin memberikan ulangan. Siap-siap aja dapat nilai jeblok bagi yang males belajar.

Aku pernah dimarahin karena nggak ikut jam olahraga padahal sedang latihan soal buat lomba bidang studi tingkat kabupaten.

Sahabat

Aku memiliki 2 sahabat dekat, yaitu Saman dan Ismayanti. Karena rumah kami tak terlalu jauh, kami sering belajar dan bermain bersama.

Kelak saat aku kuliah, aku pernah berangkat ke Jakarta bareng Saman naik kereta kemudian mampir ke kontrakannya tak jauh dari Stasiun Tanahabang. Sementara itu, hubungan persahabatanku dengan Ismayanti terputus karena suatu hal.

Prestasi

Aku berhasil meraih ranking 1 di kelas selama 3 caturwulan dan menutup tahun pelajaran 1996/1997 dengan raihan NEM 41,86 (tertinggi se-Kecamatan Kemiri). Aku pada akhirnya mendapat hadiah uang 25ribu.IMG_20191108_163019

Aku juga berhasil menjadi juara lomba bidang studi Matematika tingkat kecamatan yang akhirnya mengantarku bertanding ke kabupaten. Pada akhirnya, aku meraih peringkat 4 karena kalah dalam play off melawan wakil dari kecamatan Pituruh. Ada 3 soal yang ditanyakan. 1. 96×96 2. 33 1/3 x 18  3. 14 2/7 x 28. Aku hanya bisa menjawab soal ke-2. Sementara sainganku berhasil menjawab soal ke-2 dan ke-3 sehingga ia melaju ke babak final 3 besar.  Aku nggak tahu akhir perjuangannya.

 

 

 

 

 

Perjalanan ke Palestina

Kalau ditanya negara mana yang paling ingin dikunjungi sebelum meninggal, maka akan kujawab PALESTINA. Mengapa Palestina?

Kecintaanku pada tanah Palestina sudah mengakar semenjak aku mengenyam bangku SMA. Aku masih ingat, dulu pernah pinjam buku di perpus SMA -yang judulnya aku lupa, tapi yang jelas berkaitan dengan kondisi Palestina, tanah yang penuh konflik dan kondisi umat Islam di sana mengenaskan.

 

Kalau dirunut ke belakang, jauh sebelum SMA, rupanya karena ayahku suka dengar berita di radio, aku pun sudah mengenal Palestina. Lewat siaran berita RRI, aku sering dengar nama Presiden Palestina, Yasser Arafat. Nama Yasser Arafat juga pernah lekat di memoriku karena pas kelas 5 SD aku bersama 2 temanku pernah ikut lomba cerdas cermat P4 mewakili kecamatan. Salah satu pertanyaan pada lomba cerdas cermat itu adalah “Siapa nama Presiden Palestina?” Sayangnya pertanyaan itu ditujukan kepada kelompok pesaingku. Ahhh…

 

Pas kuliah, semakin seringlah aku dengar berita tentang Palestina. MBM sering banget ngadain kajian tematik tentang Palestina yang menayangkan tentang keberanian anak-anak Palestina dalam menghadapi tentara Israel, meski hanya bermodal ketapel dan batu. Pas sudah kerja, aku juga beberapa kali ikut aksi bela Palestina. Yang terakhir, tahun 2018 di Monas.

Sekitar bulan Juni 2019, aku mulai mencari-cari info trip yang bisa mengantarku ke Al Aqsa. Aku sempat menghubungi travel yang membawaku umrah tahun lalu. Namun, ternyata jadwalnya nggak cocok dengan tanggal yang kumau.  Sampai akhirnya aku menemukan Komunitas Umrah Mandiri.

Aku segera menghubungi PIC Komunitas Umrah Mandiri dan bergegas membayara DP sebesar 3 juta untuk mengamankan kursi. Selang beberapa waktu kemudian, aku melunasi sisanya sebanyak 26 juta.

Rencana keberangkatanku adalah tanggal 20 Oktober 2019. Namun, pada akhirnya karena berbenturan dengan perayaan Yahudi, perjalanan diundur ke tanggal 3 November 2019. Ada 3 negara yang akan  dikunjungi, yaitu Mesir, Palestina, dan Yordania.

Setelah memastikan cuti disetujui atasan, akhirnya aku berangkat pada tanggal 3 November. Beruntungnya, Visa Israel sudah keluar H-2 sebelum berangkat karena menurut info yang kudengar, visa Israel memang selalu mepet keluarnya. Bahkan, kadang baru keluar saat sudah di Mesir.

Singkat cerita, setelah 3 hari di Mesir, aku dan rombongan masuk ke Israel melalui Perbatasan Taba. Penjagaan di imigrasi Israel sangat ketat. Setiap orang harus menyeret koper masing-masing, 100 meter sebelum gerbang perbatasan, sampai masuk imigrasi, dan masuk Israel, yang berjarak sekitar 300 meter. Kalau di Indonesia, dipastikan banyak porter yang siap siaga membantu, tapi di Israel, semua harus membawa sendiri. 

Di pos pemeriksaan, tentara Israel  melakukan scanning semua paspor dengan sangat detail. Isunya, mereka takut ada sihir yang diselipkan pada paspor, utamanya sihir dari Mesir.

Beberapa rekan serombongan berhasil lolos dengan cepat. Namun, yang namanya berbau-bau Arab, seperti Abdul Jabbar Malik, Syahada, Nurul, Rahma, dan aku, Faizin, sempat mengalami penahanan. Aku sendiri hampir sejam menunggu sampai akhirnya diperbolehkan masuk ke tahap berikutnya. Mengikuti tips dari tour leader, ketika ditanya petugas, aku berpura-pura nggak bisa bahasa Inggris.  Begitu ditanya, aku pun memanggil tour leaderku, Mbak Hanna. Hanna berhasil mengatasi petugas Israel yang jutek. Namun, rekan saya, Jabbar Abdul Malik harus ditahan selama 2 jam dan setelah bebas, dia bercerita kalau selama 2 jam itu cuma didiemin dan disuruh menunggu saja. Capek deh!

Sambil menunggu Jabbar, kami berfoto di tepian laut Israel yang indah. Tampak banyak warga Israel sedang berjemur dan menikmati suasana sore itu yang panas.

Setelah semua lolos dari imigrasi, kami naik ke bus yang telah menunggu, dengan Sukri sebagai sopirnya. Perjalanan dari perbatasan menuju kota Yerusalem ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam. Sebelumnya, kami sempat berhenti sejenak di pom bensin untuk pergi ke toilet. Turun dari bus tampak banyak pria Yahudi mengenakan penutup kepala khas mereka. Toilet Israel ternyata jorok juga. Hi, banyak sisa kotoran yang nggak disiram.

Sampai di Yerusalem, hati mulai bergemuruh, perasaan yang hampir sama kurasakan seperti ketika memasuki kota Mekkah setelah melewati perjalanan panjang dari Madinah. Lampu-lampu kota Yerusalem tampak menyala terang benderang.

Bus parkir di depan hotel dan kami segera check in di Hotel Rivoli untuk menikmati makan malam. Menu malam itu roti, salad, nasi briyani, yoghurt. Setelah mengisi perut, kami pun ke kamar masing-masing.

Sempat kulihat terjadi cek cok antara pemilik hotel dengan 2 orang Yahudi berjenggot panjang, yang mengklaim telah memesan kamar. Namun, pada akhirnya 2 orang Yahudi itu tak mendapatkan kamarnya. Pemilik hotel pun meminta mereka pergi. Sepertinya ada kesalahan dalam administrasi hotel, tapi aku nggak ambil pusing. Pengin cepat-cepat istirahat.

Sekitar jam 3 pagi aku sudah terbangun. Pagi ini aku ingin sekali menunaikan salat subuh perdana di Masjidil Aqsa. Aku bersama Pak Nurul Hudha berjalan meninggalkan hotel menuju masjid pada jam 4 pagi. Udara dingin merasuk tulang. Aku hanya memakai baju koko lengsn pendek–kado dari Shiddiq– dengan balutan sorban.

Kami tak kuasa menahan diri untuk tidak berfoto di gerbang Herod, salah satu gerbang masuk kompleks Masjidil Aqsa. “Foto dong, Pak!” Ya, ntar gantian ya. Tampak rombongan jamaah lain dari Turki tersenyum melihat tingkah polah kami. Kami saling bertegur sapa, “Assalamualaikum”.

Jalan menuju Masjid ternyata melintasi lorong berliku. Kalau jalan sendiri, hampir dipastikan aku bakalan nyasar ke gang sempit. Setelah berjalan sekitar 15 menit, kami tiba di Dome of the Rock. Wow, Alhamdulillah…. Masya Allah…. indah sekali masjid kubah emas ini. Kami lagi-lagi tak mau melewatkan momen dan bergantian foto. Dan setelah puas foto-foto dan video di Dome of the Rock, kami melanjutkan langkah ke Masjid Qibli (Masjidil Aqsa). Ya Allah…. luar biasa nikmat-Mu…. kami bersyukur berhasil menginjakkan kaki di masjid tersuci ke-3 bagi umat Islam ini.

Di pintu masjidil Aqsa, kami disambut  dengan minuman hangat dan kurma yang dibagikan oleh penduduk asli Palestina. Sambil menunggu azan Subuh, aku memerhatikan jamaah lain. Paling banyak orang Turki, disusul Malaysia, dan sebagian orang Indonesia.

Salat Subuh pagi itu berlangsung khidmat. Bacaan suratnya fasih, seperti di Masjidil Haram yang semakin membuat hati trenyuh mengingat kebesaran Illahi. Usai salat, kami tak langsung pulang. Bapak-bapak rombonganku memasukkan infak ke kotak amal masjid. Aku diminta memfoto dan memvideokan. Rupanya ia menyampaikan amanah dari teman-temannya di tanah air.

Aku menikmati suasana masjid dan mengabadikan keindahan arsitektur Masjidil Aqsa. Saat sedang berfoto, aku juga berkenalan dengan jamaah dari Turki, Mesut.

Pulang dari masjid, kami sarapan di hotel dan segera berkemas karena agenda jari itu cukup padat. Kami akan mengunjungi beberapa tempat di kota Hebron.

Perjalanan ke kota Hebron ditempuh dalam waktu hampir 2 jam. Kami menyaksikan sendiri tembok yang memisahkan kota Yerusalem dengan Bethlehem. Di perjalanan, guide kami menceritakan bahwa jalan yang kami lalui hanya boleh dilewati orang Israel, sementara orang Palestina mendapatkan diskriminasi di tanah air mereka sendiri.

 

Sesampai kota Hebron atau Al Khalil (bahasa Arab), kami diajak mengunjungi Masjid Ibrahim, di mana di sana ada makam Nabi Ibrahim, istrinya, Sarah, Nabi Ishaq dan istrinya, Nabi Yaqub dan istrinya, serta Nabi Yusuf. Yang menarik dari tempat ini adalah kita bisa melihat tulang belulang para nabi. Aku baru tahu kalau ternyata Nabi Yusuf, cicit Nabi Ibrahim tidak menikah sampai wafat. Yang menyedihkan, masjid Ibrahim kini dibagi 2 sisi. Satu sisi untuk umat Islam dan sisi lain untuk Yahudi.

Sepulang dari Hebron,  kami diajak makan di restoran Cina. Ah, setelah sekian hari nggak nemu makanan enak, akhirnya restoran  Cina di kota Bethlehem ini menjadi semacam oasis di tengah padang pasir. Tempe tahunya enak, sayurnya enak, sambelnya nendang.

***

Pada hari ke-2, karena hari Jumat,  kami seharian lebih berfokus melakukan aktivitas di seputar Masjidil Aqsa untuk bersiap salat Jumat. Kami diajak mengunjungi Mimbar Nabi Zakaria, Mihrab Maryam, dan mengexplore Dome of The Rock. Sorenya, kami juga diajak mengunjungi Tembok Ratapan. Dulunya, Tembok Ratapan merupakan Tembok Bouraq, tempat Nabi Muhammad menambatkan bouraqnya sebelum peristiwa Mikraj.

 

***

Pada pagi terakhir di Palestina, aku sengaja berlama-lama di masjid. Kuamati tingkah polah Bapak-bapak yang membagikan teh ke para jamaah. Suatu ketika datanglah 3 orang pemuda dari Turki mengambil teh dan bertanya, “Bapak, kenapa Anda bagi-bagi teh gratis?” Sang Bapak menjawab, “Aku melakukannya karena Allah.” Masyaallah, kami yang mendengarnya terharu. Sungguh mulia akhlak Bapak tua ini.

 

Siang harinya, kami harus meninggalkan Palestina untuk melanjutkan perjalanan ke Yordania. Aku berharap dapat kembali lagi ke sini untuk memakmurkan masjidil aqsa. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Ministry of Finance Running Community Gathering 2018

Sabtu, 12 Mei 2018 Tax Court Runners turut menghadiri acara Ministry of Finance Running Community Gathering 2018 yang digagas oleh BA015Runners bertempat di Kawasan Kota tua Jakarta. Ada 10 perwakilan dari Tax Court Runners yang hadir yaitu Fachry, Ridwan, Amin, Sasmito, Iqbal, Penny, Rio, Dhila, Etna, dan saya.
Penny dan Iqbal bergabung dengan grup pace 7, sementara 8 pelari lainnya memilih pace manja, pace 8. Rute lari adalah dari Kota tua menuju Pelabuhan Sunda Kelapa dan kembali lagi ke Kafe Historia.

Acara setelah lari antara lain, sarapan manja, sharing session antar komunitas lari di lingkungan Kementerian Keuangan, pemesanan kaos, serta pembagian doorprize. Di akhir acara, panitia membagikan buff kepada seluruh peserta. Berikut foto-foto keseruan lari kemarin.

 

 

Visit Malaysia

18 s.d. 22 Maret 2018 yang lalu saya jalan-jalan ke Malaysia bersama teman saya, Rokhman Illahi dan juga ibu serta adiknya. Kami mengunjungi tempat-tempat indah seperti Kota Tua Malaka, Genting Highland, Batu Caves, Masjid Jamek, Central Market, Petaling, Alor Street, Bukit Bintang, KL Tower, serta Petronas Twin Towers. Selain itu, kami juga mencoba berbagai makanan khas Malaysia seperti nasi lemak, nasi kandar, dan yang lainnya.

Dari segi transportasi, Malaysia telah selangkah lebih maju dari Jakarta. MRT, LRT, Monorel, KTM, dan bus mereka sudah cukup baik. Tata kota juga sudah bagus. Tak terlalu macet. Selain itu, biaya hidup juga relatif lebih murah daripada Jakarta.

Berikut beberapa foto selama perjalanan singkat saya di Malaysia.

Silakan.

Menang TTS Kompas

Sebuah kejutan mewarnai hari Minggu kemarin. Setelah sekian lama tak bermain-main dengan hobi lama, mengisi TTS, saya akhirnya menang lagi. Seingatku, terakhir menang TTS Kompas adalah tahun 2015. Artinya, sudah hampir 3 tahun berlalu.

Masih terbayang kemenangan TTS pertama, waktu masih kelas 3 SMA, tahun 2003. Senangnya bukan main. Hadiah TTS kala itu masih 100 ribu, sementara sekarang sudah di angka 250 ribu. Untuk menyelesaikan TTS Kompas di zaman itu, saya mengandalkan bantuan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Indonesia-Inggris, Kamus bahasa Jerman, Kamus bahasa Perancis, dan kamus bahasa asing lainnya, serta ensiklopedia. Semua itu saya dapatkan di perpustakaan sekolah. Kini, di era yang sangat maju, segala sesuatu serba mudah untuk mendapatkan jawaban TTS. Cukup buka google. di sana kita bisa menemukan banyak sekali jawaban atas pertanyaan yang dicari. Bahkan, ada beberapa orang yang sengaja memposting jawaban TTS Kompas lho.

IMG20180218114040

Aksi Bela Palestina

Setelah sekian tahun absen dari kegiatan bertema Peduli Palestina, kemarin Ahad, 17 Desember 2017 saya berkesempatan mengikuti Aksi Bela Palestina di Monas, Jakarta Pusat. Selalu ada getaran yang membuat dada ini sesak tiap kali mengingat Palestina.

Nasyid dari Shoutul Harokah berjudul Palestina tercinta berikut kiranya menghunjam dada.

Untukmu jiwa-jiwa kami, untukmu darah kami

Untukmu jiwa dan darah kami, wahai Al Aqsa tercinta

Kami akan berjuang demi kebangkitan Islam

Kami rela berkorban demi Islam yang mulia

Untukmu Palestina tercinta, kami penuhi panggilanmu

Untukmu Al Aqsa yang mulia, kami kan terus bersamamu

Ya Rabbi, izinkanlah kami berjihad di Palestinamu

Ya Allah, masukkan kami tercatat sebagai syuhadamu.

 

#savePalestine

#saveAlAqsa

#saveAlQuds

 

Semalam di Rangkasbitung

Weekend kemarin saya menghabiskan malam minggu di kota Rangkasbitung, yang merupakan ibukota kabupaten Lebak. Perjalanan menuju Rangkasbitung saya tempuh lebih kurang 2 jam, naik commuterline dari stasiun Tanah abang menuju stasiun Rangkasbitung. Dari stasiun, saya kemudian berjalan kaki menuju alun-alun. Alun-alun menjadi saksi bisu bagi remaja-remaja tanggung menghabiskan malam keramat.

IMG20171007193152

 

Selanjutnya, saya berjalan kaki menuju sisi lain alun-alun, menuju Museum Multatuli dan Perpustakaan Saidjah Adinda. Bangunan megah ini dibangun untuk mengenang jasa Douwes Dekker atau Multatuli, sang penulis Max Havelaar yang juga pernah menjabat sebagai residen Lebak.

Pesta Hoyak Tabuik 2017

Akhir pekan kemarin saya menghabiskan waktu dengan mengunjungi Sumatera Barat. Saya datang ke Kota Pariaman untuk menyaksikan pesta Hoyak Tabuik 2017 yang diselenggarakan sejak tanggal 20 September 2017 s.d. 1 Oktober 2017. Beruntung saya datang saat perayaan puncak pesta Hoyak Tabuk tanggal 1 Oktober 2017 yang digelar di Pantai Gandoriah.

Tabuik merupakan tradisi perayaan Syiah yang mengadopsi perayaan Karbala. Diceritakan bahwa pada tanggal tersebut, cucu Nabi Muhammad SAW, Husein gugur di medan perang Karbala. Terlepas dari semuanya, Pemda Sumbar, dalam hal ini Pemkot Pariaman telah menjadikan Festival Tabuik sebagai agenda rutin tahunan yang dapat mengangkat citra pariwisata Pariaman.

Ribuan pengunjung dari berbagai wilayah datang memenuhi Pantai Gandoriah untuk menyaksikan ajang tahunan tersebut. Sebagian di antaranya merupakan turis mancanegara. Berikut beberapa foto saya selama perjalanan singkat ke Pariaman dan Padang. Alhamdulillah perjalanan lancar dan menyenangkan.