Pendakian Gunung Guntur 2-4 Desember 2016

2-4 Desember 2016, saya bergabung dengan kedua Bu Lik saya, Triyani dan Kasiani mengikuti trip ke Gunung Guntur. Saya juga mengajak sahabat saya, Uda Rio. Kami berangkat dari Jakarta  hari Jumat tengah malam sekitar pukul 22.30 dari meeting point di Pom Bensin Palmerah. Naik mobil tronton TNI dengan 28 orang lainnya. Uyel-uyelan udah kayak sarden yah. Singkat cerita, abang sopir mengendarai tronton dengan kecepatan maksimeum. Kami tiba di Garut, pada hari Sabtu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Karena lapar, saya memesan indomie goreng di warung Bu Tati. Beberapa peserta melanjutkan tidur ayam yang tertunda sepanjang perjalanan Jakarta – Garut.

Pendakian dimulai sekitar pukul 05.00 WIB.  Sepanjang perjalanan banyak view menarik dan menjadi objek foto yang instagramable. Kami tiba di Pos 3 sekitar pukul 09.30 WIB. Lega rasanya melewati semak belukar dan trek yang cukup sulit. Kami pun beristirahat menuju tenda yang telah disiapkan Panitia. Sempat tidur sebentar, acara dilanjutkan dengan masak-masak untuk makan siang. Makan siang ala kadarnya: nasi, sop, tempe goreng, dan ikan asin serta sambal yang dibawa Bu Lik saya. Makan apa aja rasanya enak kalau di gunung. Malam harinya kami duduk-duduk menikmati pemandangan Kota Garut dari ketinggian. Kerlap-kerlip lampu membuat romantisme malam minggu tersendiri. Kami bercanda tawa sampai sekitar jam 20.00 saat makan malam siap.

Jam 02.30 hari Minggu pagi kami dibangunkan untuk bersiap menuju Puncak. Saya sempatkan ke kali untuk cuci muka, sikat gigi, dan berwudhu. Udara dingin menyeruak. Sekitar pukul 03.30 kami berangkat menuju Puncak. Dengan bantuan headlamp, kami mendaki dalam gelap dengan pelan-pelan melewati jalanan berkerikil nan licin. Khawatir terpeleset dan terperosok ke jurang sih ya.  Azan subuh terdengar di tengah perjalanan. Saya menyempatkan sholat di antara rerumputan dengan posisi miring. Selepas sholat, saya mengejar teman-teman dan melanjutkan pendakian. Matahari mulai memancarkan sinarnya saat kami tiba di puncak. Sunrise. Alhamdulillah… berkesempatan untuk menikmati indahnya lukisan alam Yang Mahakuasa. Di atas, kami mengambil banyak foto untuk mengabadikan momen. Kami juga sempat merekam video ala Mannequin Challenge yang sedang kekinian. Sekitar jam 09.00 kami turun, kembali ke tenda di Pos 3. Perjalanan turun tak kalah susah dengan perjalanan naik. memang sih saya bisa meluncur/prosotan di kerikil. Tapi, beberapa kali saya terpeleset…hampir kebablasan.  Sampai di pos, saya mandi di kali, ganti baju dan kembali ke tenda. Menu sarapan kali ini enak banget, sarden, mie goreng, dan kering tempe.

Jam 11 kami turun dari Pos 3. Sekitar jam 13 kami sampai di basecamp.  Mandi, istirahat, sholat, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke terminal Guntur naik colt buntung. Mengenang zaman SD. Bahagia. Kami kembali ke Jakarta dengan bus Primajasa jurusan Garut – Lebakbulus. Saya turun di Pasarrebo sekitar pukul 21.00. Terima kasih, abang-abang Panitia dan teman-teman baik selama perjalanan. Seampai jumpa di trip selanjutnya. Insyaallah.

 

 

Oeang Run 2016

Jumat, 28 Oktober 2016 saya mengikuti Lomba Lari dalam rangka peringatan Hari Oeang Republik Indonesia yang ke-70 bertajuk “Oeang Run 2016” bertempat di Lapangan Upacara Kementerian Keuangan, Jalan Lapangan Banteng Timur, Jakarta Pusat. Penggagas acara ini adalah komunitas lari BA015Runners yang pengurus intinya merupakan para pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan.  Peserta Oeang Run kali ini berjumlah sekitar 360 orang yang terdiri dari para pegawai Kementerian Keuangan dan mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN.

Dari kantor saya, Sekretariat Pengadilan Pajak, ada 5 peserta yang ikut, yaitu saya, Arifin, Rio, Akmal, dan Dewi. Kami tergabung dalam grup Tax Court Runners.Kehadiran kami mendapatkan support dari Sekretaris Pengadilan Pajak yang menerbitkan surat tugas bagi kami dan membebaskan kami dari kewajiban mengisi daftar hadir elektronik pada pagi hari. Alhamdulillah.

Acara dimulai pada pukul 06.30 WIB, dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan, Bapak Marwanto. Selepas dibuka, kami bersama-sama menyanyikan Lagu Indonesia Raya, berdoa, dan melakukan pemanasan.Tibalah pada saatnya start dimulai. kami bersaing dengan kekuatan masing-masing.
Melewati rute biasa, start dari Lapangan Upacara, keluar memutari Lapangan Banteng, masuk ke Taman, keluar lagi, menyusuri sepanjang jalan depan Hotel Borobudur, kemudian masuk ke kompleks gedung Kemenko Perekonomian, naik jembatan penyeberangan, memutari kompleks gedung Djuanda, menuju Gedung Sutikno Slamet, berputar di depan gedung Direktorat Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko, lurus ke depan gedung Badan Kebijakan Fiskal, belok lagi ke Dhanapala, lurus ke Djuanda, naik jembatan penyeberangan lagi, memutari gedung Otoritas Jasa Keuangan, lurus sampai gedung Perbendaharaan, dan kembali lagi ke Lapangan Upacara untuk finish. Jarak yang ditempuh sekitar 4,5 km. Adalah sahabat saya, Roy yang berhasil menjadi Juara 1 pada lomba Oeang Run 2016. Roy yang merupakan pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai berhasil finish tercepat dengan catatan waktu 9 menit. Saya sendiri finish peringkat 20-an dengan catatan waktu sekitar 27 menit.

Selamat Hari Oeang yang ke-70! Run, find the new you!

Perjalanan Menyembuhkan Luka

14670735_10211265442422834_8739611934310599346_nCvX-oiTUIAAhrdD.jpg large.jpgSabtu dan Minggu kemarin, 22-23 Oktober 2016, saya kembali menyambangi Kota Bandung, kota yang penuh kenangan, bersama teman saya, Farhan. Rencana perjalanan ke Bandung ini telah kami sepakati sejak sebulan yang lalu. Ketika itu, Farhan yang baru saja putus dari pacarnya mengajak saya untuk jalan-jalan singkat ke Bandung dalam rangka mengobati luka hatinya. Saya menyetujuinya karena saya ingin mengurangi beban yang dia pikul. Bukankah meringankan beban orang lain itu berpahala?

Singkat kata singkat cerita, hari yang ditunggu pun tiba. Tiket telah saya pesan untuk pulang-pergi sebulan yang lalu. Yang saya ingat, kami akan naik kereta jam 16.00. Saya tiba di Stasiun Gambir sekitar Pukul 15.00 WIB dan langsung menuju ke mesin check in. Namun ternyata, usut punya usut, email yang saya peroleh dari tiket.com hanya berisi tiket kembali dari Bandung ke Jakarta, sementara tiket berangkat dari Jakarta ke Bandung belum ada. Agak panik, akhirnya saya menuju ke Customer Service. Saya dilayani dengan sangat baik dan akhirnya mendapatkan nomor booking. Jreng, ternyata tiket kami untuk keberangkatan jam 15.30. Untung saja masih ada waktu sekitar 10 menit. Segera saja kami menuju ke peron dan naik ke kereta Argo Parahyangan.

Perjalanan ke Bandung ditempuh dalam waktu 3 jam lebih sedikit. Kami tiba di Stasiun Bandung sekitar pukul 18.30. Yang kami lakukan pertama kali adalah keluar dari Stasiun untuk naik angkot menuju Dago. Kami memang belum memesan kamar penginapan. Jadi, kami berinisiatif untuk langsung pesan on the spot. Sesuai dengan pengalaman terdahulu, saya mengajak Farhan menuju Mess Babinkum TNI di belakang Superindo Dago. Sebenarnya, saya telah berusaha menghubungi nomor telepon Mess, naumun entah kenapa nomor tesebut tidak aktif. Mungkin sudah ganti.

Turun dari angkot, disambut gerimis mengundang, kami berjalan ke Mess. Sampai di gerbang, saya menyapa penjaga Mess dan menanyakan apakah masih tersedia kamar kosong. Ah, kecewa. Ternyata sudah full booked. Kami lantas menuju Superindo untuk berteduh sambil memesan penginapan lain secara online. Via pegipegi.com, akhirnya kami mendapatkan kamar di Chez Bon Hostel yang beralamat di Jalan Braga. Saya pun membayar biaya penginapan melalui ATM di Superindo. Setelah mendapatkan email konfirmasi dari pegipegi.com, kami pun memesan GrabCar untuk menuju lokasi penginapan.

Tiba di Chez Bon, kami langsung menuju resepsionis di lantai 2. Mas-mas resepsionisnya cukup ramah melayani kami. Selanjutnya, kami diantar ke lantai 3. Kami mendapatkan kamar berbentuk asrama yang berkapasitas 16 orang. uuu…. ada 8 ranjang bertingkat 2. Saat kami masuk, baru ada 1 orang penghuni. Belakangan, semakin malam, penghuni kamar bertambah. Mumpung sepi, saya foto-foto di dalam kamar. Sementara saya tiduran, Farhan keluar kamar dan belakangan dia yang telah mendapatkan teman baru mengajak keluar untuk makan malam. Saya pun berkenalan dengan teman barunya, Zega.

Selepas membersihkan diri, kami bertiga makan malam di Bandros Cafe yang terletak persis di sebelah Chez Bon hostel. Saya memesan steak dan lemon tea. Zega bercerita bahwa dia masih kuliah di UKI sambil bekerja. Berasal dari keluarga besar dan menyukai traveling. Selepas makan malam, kami kembali ke hostel. Karena rasa kantuk yang menyerang dan faktor usia yang tak bisa dibohongi, saya menolak ajakan Farhan dan Zega untuk hang out. Jadilah mereka berdua menghabiskan malam minggu nan panjang bersama. Sekitar jam 3 dinihari, Farhan baru kembali ke kamar.

Paginya, saya memutuskan lari pagi sendirian ke Alun-Alun. Di Alun-alun, saya sempat beberapa kali foto dengan bantuan Mas-mas yang juga tengah menikmati suasana Alun-Alun. Dari sana, saya hendak main ke Tebing Keraton, tapi saya salah memesan gojek. Ah… jadinya saya bayar 6ribu ke abang gojek dengan sia-sia. Setelah itu, saya mengubah tujuan ke Teras Cikapundung saja.

Pemandangan di Teras Cikapundung cukup bagus. Saya benar-benar angkat topi pada keseriusan Pemerintah Kota Bandung yang mampu menghadirkan taman-taman cantik dan indah di seluruh wilayah kota Bandung. Puas keliling teras Cikapundung, saya kemudian berjalan kaki menuju Sabuga (Sasana Budaya Ganesha). Untuk masuk ke sabuga, saya diwajibkan membayar 4.000 rupiah. Okelah, tak apa, yang penting bisa puas keliling-keliling venue dan melihat-lihat aktivitas orang-orang Bandung yang ingin hidup sehat.

Jam 10-an saya kembali ke hostel. Sempat tidur sejenak saking capeknya. Bangun-bangun, saya kaget bercampur kesal mendapati Farhan tengah asyik merokok di lobby bersama Zega.  Ah, mungkin dia butuh pelarian. Selepas mandi dan sholat, kami check out. Berjalan kaki ke alun-alun, menyusuri Jalan Asia Afrika, berlanjut ke Pasar Baru, saya membeli pisang goreng untuk pengganjal perut. Kami lantas naik angkot ke Dago untuk mencari tempat makan siang. Kami turun di depan Hanamasa. Namun, karena waiting list yang panjang, kami pindah tempat. Pada akhirnya, kami memutuskan makan di Kedai Mamah Eha. Kesan pertama masuk ke kedai, saya langsung suka karena pelayannya yang masih training, cakep. Saya mengamati teko yang berfungsi sebagai kobokan. Di sana juga tersedia toilet dan mushola. Saya memesan Pulut Mango sebagai dessert serta Masakan Sunda + pete sebgaai maincourse. Berdua kami habis 120 ribu. Worth it!

Selesai makan, kami bergegas ke Stasiun Bandung. Awalnya, kami memesan gojek. Namun, abang gojeknya nggak tahu lokasi kami. Lelah menunggu, akhirnya saya cancel. Kami berdua berjalan kaki ke Gedung Sate sebagai landmark yang mudah dikenali oleh abang gojek. Dalam perjalanan ke Gedung Sate, sempat pula saya meminta abang tukang parkir untuk mengantarkan kami menuju Stasiun, namun karena dia minta 50ribu, saya menolaknya. Pada akhirnya, kami beruntung mendapatkan abang gojek yang andal. Beberapa menit sebelum keberangkatan kereta, kami tiba di Stasiun Bandung. Lega! Tak sempat membeli oleh-oleh,  kami kembali ke Jakarta dengan beragam cerita. Semoga hati yang luka telah terobati. Selamat membuka lembaran baru yang bebih berwarna, lebih bermakna, dan lebih berbahagia.

Herbalife Run 2016

Minggu, 9 Oktober 2016, saya berkesempatan mengikuti event lari bertema kesehatan (yaiyalah, namanya lari pasti bertema kesehatan) yang berjudul Herbalife Run 2016 di Indonesia Convention Esibition (ICE) Bumi Serpong Damai, Tangerang. Beruntung sekali saya mendapatkan slot gratisan dari rekan pelari yang tergabung di komunitas Banteng Runners. Adalah Mas Solihin yang sering dipanggil Pamela -gegara pernah lari-lari manja di pantai- yang menghadiahkan tiket gratisan tersebut. Untuk mendapatkan tiket tersebut, kami berkompetisi di grup Banteng Runners. Siapa pun yang #setorun terbanyak (artinya lari paling banyak dan dilaporkan melalui grup WA Banteng Runners), dialah yang berhak mendapatkan slot tersebut. Yeaaahhh…. after hardship come ease, saya berhasil menjadi penyetor lari terbanyak dengan catatan lari sejauh 14K. Unggul 2K dari peringkat kedua. J

Flash back dulu ya…. ke tanggal 7 Oktober.  

Pada tanggal 7 Oktober atau H-2 penyelenggaraan race, saya menerima racepack dari Mas Solihin. Beliau yang bekerja di kawasan Lapangan Banteng mengirimkan melalui GoSend. Ongkos kirim sudah ditanggung, jadi saya terima beres  saja. Rezeki anak soleh emang yah.

Langsung ke tanggal 9 Oktober.

Kehebohan mengikuti race sudah dimulai sejak dini hari karena saya memilih naik shuttle bus dari Arion Rawamangun. (ini setelah ngobrol-ngobrol dengan Mas Bagus Ochid, anggota Banteng Runners, yang juga ikut race). Jam 03.00 setelah mandi, saya berangkat dari kos bertemankan abang gojek. Was-was juga ya, dini hari naik gojek. Tapi alhamdulillah abangnya baik hati. Nyampai di Arion dengan selamat. Di sana ketemu beberapa peserta lain. Ada ibu-ibu bawa 2 anak nya yang turun di kategori Junior. Ada mas-mas yang turun di kategori 21K. Belakangan, muncul Mas Bagus. Mas Bagus akan turun di kategori 21K Relay (satu tim bertiga, jadi setiap anggota tim masing-masing lari sejauh 7K). Sementara itu, saya turun di kategori 5K.

Jam 03.30 bus meluncur ke ICE. Dan, alhamdulillah nggak sampai sejam sudah tiba di ICE. Berhubung sudah masuk waktu Subuh, saya ikut jamaah Subuh di lobby ICE bersama puluhan peserta lain.

Seperti yang telah dijadwalkan, start dibagi menjadi 3 sesi, yaitu pada jam 05.00 pagi untuk peserta 21K; Jam 05.15 untuk peserta 10K; dan Jam 05.30 untuk peserta 5K. Artinya, masih ada waktu setengah jam lebih sebelum start 5K. Saya melakukan pemanasan ringan dengan meregangkan tangan, kepala, kaki, pundak, lutut, kaki, lutut, bergantian sampai capek. (hahaha, belum lomba udah capek).

05.30 start! saya berlari di garda depan dengan pace yang lebih kencang dari biasanya. Kilometer pertama, banyak peserta yang mulai berjalan. Menginjak kilometer kedua, makin banyak yang jalan. Saya baru minum di kilometer 2,5 pas ada waterstation. Saya mulai galau, mana nih fotografer? kok nggak nngol-nongol? Kegalauan saya terjawab di kilometer ketiga saat melihat abang fotografer mangkal. Puas berpose, saya kemudian melanjutkan pelarian sampai garis finish. Jam 05.58 saya menginjakkan kaki di garis finish. Alhamdulillah, finish strong!

skip skip….

Senin, 10 Oktober 2016 kurang lebih jam 19.00, foto resmi dari Panitia diunggah ke Facebook. Yeah, akhirnya setelah penantian panjang, dapat juga foto ganteng saya.🙂 Selanjutnya, setelah melihat catatan waktu resmi dari Panitia, saya bergembira ria karena dinyatakan finish di peringkat ke-15 untuk kategori Umum Putra 5K. Allahu akbar!

 

 

Mualaf

Sore ini, 9 Muharram 1438 H atau yang bertepatan dengan tanggal 10 Oktober 2016, bertempat di Masjid Al Amin, Pak Thomas mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Ketua Rohis Pengadilan Pajak, Bapak Haryono dengan disaksikan oleh jamaah sholat Asar. Ketika ditanya apakah memilih Islam atas dasar paksaan atau tekanan atau ada iming-iming? Dia menjawab Tidak. Murni karena hati nurani.

Setelah mengucapkan 2 kalimat syahadat, beliau resmi menjadi muslim dan kami menyalaminya. Saya terharu dan merasa sangat senang mendapatkan Saudara seiman yang baru.

YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIKA (wahai Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu). Sesungguhnya, tak ada paksaan dalam Islam.

Menikmati Semarang dari Skypool Star Hotel.

Pertengahan September kemarin, saya menginap di Star Hotel Semarang dalam rangka menghadiri resepsi pernikahan teman kantor. Saya memilih Star Hotel karena sebelumnya pernah menginap di sana pada medio 2015. Yang menjadi andalan hotel bintang empat ini adalah kolam renang yang terletak di lantai 30.

Beruntungnya, saya menginap bersama rekan saya, Rio yang punya bakat fotografi berkelas. Alhasil, beberapa foto cantik berhasil ia ambil.

 

Selamat menikmati jepretan Rio. Insyaallah berkah.

 

 

 

 

Maybank Bali Marathon 2016

Belum lama berselang, tepatnya pada hari Minggu, 28 Agustus 2016, saya mengikuti event lari berstandar internasional yang bertajuk “Maybank Bali Marathon 2016” bertempat di Gianyar, Bali. Event ini diikuti oleh 7.500 pelari dari 43 negara. Tingginya animo peserta membuat Panitia menambah kuota peserta dari tahun sebelumnya yang berjumlah 5.000 pelari menjadi 7.500 pelari. Jumlah peserta tersebut terbagi dalam 6 kategori, yaitu Full Marathon, Half Marathon, 10K, 400m anak-anak, 100m anak-anak, dan 10K wheelchair. Saya turun di kategori Full Marathon bersama 2.300 pelari lainnya.

Meskipun start dijadwalkan pada pukul 05.00 WITA, atmosfer Bali Marathon mulai terasa sejak Pukul 03.30 WITA begitu saya tiba di lokasi. Sambil menunggu start, saya berbincang dengan 2 teman saya, Sam dan Harry. Kami memperhatikan dandanan peserta lain. Ada yang hits banget, ada pula yang biasa saja. Saya sendiri tampil sederhana dengan celana pendek warna hitam. Tampak pula beberapa pelari perempuan yang mengenakan hijab. Saya juga melihat Ibnu Jamil yang sedang diajak selfie oleh rekan pelari lain. Saya menyesal karena meninggalkan telepon seluler di tempat penitipan tas. Gagal selfie bareng deh.

Sepuluh menit menjelang start, kami bersama-sama mengumandangkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Selanjutnya, “Viva La Vida” dari Coldplay turut membawa peserta larut dalam euforia. Tepat pukul 05.00 WITA start berlangsung, para pelari Kenya melesat meninggalkan rombongan dengan kecepatan berlari 3 menit per kilometer (pace 3). Saya, Sam, dan Harry berlari dengan pace santai, pace 8.

Kilometer pertama dapat kami lewati dengan mudah. Yang mengherankan, sudah ada pelari yang berjalan di kilometer kedua. Hello, masih ada 40 kilometer lagi, Mbak! Saya baru berpisah dengan dua rekan saya ketika melihat beberapa pelari tengah menjalankan ibadah sholat di tepi jalan. Saya pun sholat dengan alas ala kadarnya. Alas tersebut dipinjami pelari lain. Ah, indahnya ukhuwah saya rasakan. Saya kemudian melanjutkan berlari dengan pace 7 untuk mengejar kedua teman saya. Namun, karena kondisi jalanan yang masih gelap, saya gagal menemukan mereka.

10 kilometer pertama dapat saya tempuh dengan lancar. Kaki masih enak, tenaga masih full. Jam di tangan menunjukkan Pukul 06.14 WITA saat saya melewati check point pertama. Selepas Jalan Ida Bagus Mantra, rute selanjutnya berbelok ke Kampung Ketewel. Warga desa serta anak-anak sekolah bersorak memberikan semangat kepada pelari yang melintas. Gamelan dimainkan dengan sangat indah. Bak juara Olimpiade, saya menyalami setiap anak yang berjejer rapi di pinggir jalanan Kampung.

Jam menunjukkan pukul 06.53 WITA saat saya menginjakkan kaki pada kilometer 15 sekaligus check point kedua. Pace saya masih bertahan di pace 7. Beberapa pelari mulai berguguran di tengah jalan. Rasa lapar mulai melanda saat melewati kilometer 20 sekaligus check point ketiga. Pace saya melambat. Saya hampir memutuskan untuk mampir ke warung. Namun, ternyata beberapa meter kemudian, terdapat waterstation. yeay, ada pisang. Saya mengambil 2 buah pisang dan minum 2 gelas minuman isotonik. Alhamdulillah, kenyang!!

Ketika sedang makan pisang, saya bertemu Prima, rekan kuliah saya dahulu. Kami kemudian berlari bersama kurang lebih 500 meter, sebelum akhirnya saya mempersilakannya untuk berlari lebih kencang. Saya mulai merasa agak berat berlari. Sepertinya ini akibat kekenyangan makan dua pisang.

Rasa sakit menyerang telapak kaki dan sekitar paha sehingga memaksa saya separuh berlari, separuh berjalan. Praktis, sejak kilometer 21, pace saya menurun drastis. Sementara itu, matahari semakin menyengat, suhu badan saya meningkat. Keringat semakin bercucuran. Terngiang di kepala saya tulisan Haruki Murakami yang mengatakan bahwa dia tidak pernah berjalan sedikit pun sepanjang marathon. Ah, saya merasa gagal.

Saya tiba di kilometer 34 pada pukul 10.00 WITA. Lima jam berlalu padahal masih tersisa 8 kilometer lagi. Di sini saya bertemu dengan teman saya, Ari yang tengah beristirahat sambil memegangi kakinya yang kram. Kami bersalaman dan kemudian berlari bersama hingga kilometer 35 saat tanjakan setinggi 119 meter menghadang dan memisahkan kami. Selepas tanjakan yang tajam, datanglah turunan yang landai. Sambil menahan sakit, saya memanfaatkan kesempatan ini untuk berlari kembali.

Tepat Pukul 11.11 WITA saya berhasil menginjakkan kaki di garis finish disambut banyak fotografer. Selepas finish, saya menerima medali kebanggaan dan kaos finisher dengan rasa campur aduk sampai tak kuasa membendung air mata. 42,195 kilometer, cyin!

Sambil menunggu Sam dan Harry finish, saya berbaring di rerumputan untuk berteduh. Sekitar 15 menit kemudian, Harry finish. Sam baru finish pada pukul 11.57 WITA. Kami bergantian foto di depan papan besar. Usai berfoto, kami memanfaatkan terapi air es yang disediakan. Terapi ini cukup ampuh untuk menghilangkan nyeri di kaki.

Dengan kondisi badan remuk redam, kami berjalan gontai menuju lokasi shuttle bus yang akan mengantarkan kami kembali ke Kuta. Berjalan sejauh 1,5 km di terik mentari pukul 12.30 WITA merupakan siksaan. Rasanya ingin melepaskan kaki dan meninggalkannya. Namun, tentu saja kami bangga dapat mengalahkan diri sendiri. Saya percaya bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Berani mencoba?

Gathering Openrice di Kitchenette Puri Indah

Sabtu, 21 November 2015 yang lalu saya mengikuti acara gathering openrice di Kitchenette, Puri Indah Mall. Acara berlangsung selama lebih kurang 2 jam. Di sana kami mencoba berbagai macam menu andalan Kitchenette yang tak dijumpai di resto lain.

Saya memilih minum mint & lemon untuk menyegarkan tenggorokan yang sedang kurang enak. Umm…. Rasa lemon & mint-nya sangat membekas. Ulalaa…..

 

Nilai: 9 dari 10 ya. Tempatnya pas buat ngumpul-ngumpul cantik bareng geng. Tapi kalau mau datang sendiri juga oke. Dijamin puassss. IMG_20151121_113707.jpg