Pendakian Gunung Semeru

Pertengahan Mei yang lalu, saya kembali bergabung dengan Open Trip Bang Aang mengikuti pendakian Semeru. Setelah Gunung Guntur dan Prau, ini adalah ketiga kalinya saya bergabung. Jumlah peserta cukup banyak. 28 orang kalau tidak salah. Terbagi menjadi 3 area, Jakarta, Malang, dan Makassar.

Dari Jakarta, kami berangkat hari Rabu, 10 Mei 2017 sekitar Pukul 15.15 WIB menggunakan Kereta api Matarmaja dari Stasiun Pasar Senen. Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 17 jam. Kami tiba di Stasiun Malang keesokan harinya sekitar jam 8 pagi. Dari stasiun Malang, kami naik angkot carteran yang telah dicarter oleh Panitia Malang (Maya) menuju ke Tumpang.

Di Tumpang kami menunggu jeep di rumah keluarga entahlah siapa namanya. Sambil menunggu, saya sempat membersihkan badan. Mandi ala ala tanpa sabun dan sikat gigi (pakai sikat gigi anak pemilik rumah). Selebihnya, sempat sarapan pecel di warung Ijo.

Sekitar jam 10an kami berangkat menuju Ranupani dengan jeep. Jeep di tengah jalan sempat mogok. Ngeri. Bayangin aja, mogok di kiri kanan jurang.

Sampai di Ranupani, kami harus mengikuti briefing dari Saver (Sahabat Volunteer Semeru). Ya Allah, briefingnya serem banget. Diceritakan gambaran pendakian menuju puncak dengan segala risikonya beserta para korban meninggal/patah tulang. Dari situ, saya agak down sih.

Sekitar jam 4 sore, kami meninggalkan Ranupani menuju Ranukumbolo. Perjalanan ditempuh lebih kurang 5 jam. Hati-hati karena salah sedikit bisa terperosok ke jurang. Jalanan yang gelap memaksa kami harus menyalakan headlamp.

Sampai di Ranukumbolo, kami masih menunggu Panitia yang membawa tenda. Rupanya, Bang Bolot dan Bang Tyong yang membawa tenda belum sampai. Pada akhirnya, setelah tenda berdiri, kami terbagi menjadi 5 tenda. Saya bergabung dengan peserta lain dalam tenda berkapasitas 15 orang.

Udara Ranukumbolo sangat dingin, menembus 6 derajat celcius. Saya merasakan kedinginan yang luar biasa meskipun telah memakai jaket, sarung tangan, sleeping bag, kupluk, dan buff.

Keesokan paginya, tampak kabut menyelimuti danau. Sambil menunggu sarapan, kami sempat foto-foto manja. Sarapan telah disediakan oleh Panitia. Kami pun menyantap sarapan dengan nikmat. Tempe goreng ala Ranukumbolo nan nikmat sebagai persiapan sebelum meneruskan perjalanan ke Kalimati.

Untuk menuju Klaimati, kami membutuhkan waktu hampir 5 jam. Berhenti di setiap pos dan membeli semangka/air minum. Harga sepotong semangka sama di setiap pos, yaitu  2.500. Sementara harga air semakin ke atas semakin mahal. Dari 10 ribu sampai 20 ribu.

View yang dilewati bagus. Ada Tanjakan Cinta yang konon kalau kita memikirkan orang yang kita cintai, dia akan jadi jodoh kita. Ah, saya lupa mikirin siapa waktu itu. Kemudian ada Oro-Oro Ombo yang berisi padang Verbena Brasiliensis Vell yang berwarna ungu. Kita bisa foto-foto cantik nan manja di tengah padang ungu tersebut. Selepas Oro-Oro Ombo, kami disuguhi deretan pohon cemara yang disebut Cemoro Kandang. Pos selanjutnya yaitu Jambangan dan terakhir Kalimati.

Setibanya di Kalimati, saya mencoba tidur untuk mengumpulkan tenaga agar malamnya bisa ikut muncak. Namun, meskipun sudah berusaha memejamkan mata, pikiran melayang-layang, rasa was-was serta khawatir melanda. Sampai jam 10 malam lebih, saya tak bisa tidur. Pada akhirnya, saya memutuskan tidak ikut muncak.Tingkat keyakinan saya merosot drastis.

Keesokan paginya kami mendapat info adanya korban meninggal tertimpa batu setengah badan. Korban kebtulan mendirikan tenda tak jauh dari tenda kami. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Dalam hati saya bersyukur karena memutuskan tidak muncak. Kembali dengan sehat dan selamat dari Semeru itulah yang paling penting buat saya. Alhamdulillah.

 

 

Weekend Getaway ke Tebing Keraton – Tahura

Hari Minggu kemarin, 05 Maret 2017, saya melakukan perjalanan singkat ke Tebing Keraton. Untuk menuju ke sana, saya menggunakan jasa abang gojek untuk mengantarkan saya dari  Chez Bon Hostel menuju ke Tebing Keraton. Namun, rupanya abang gojek nggak tahu lokasi Tebing Keraton. Jadinya kami nyasar sampai ke Jalan Tangkuban Perahu, Lembang. Harapan untuk melihat sunrise pun sirna. Saya tiba di Tebing Keraton sudah menjelang jam 7 pagi, saat matahari sudah tinggi dan kabut sudah menghilang.

Saya kemudian jalan-jalan di ladang warga. Hamparan kebun kol dan tomat segar dipandang dan menyejukkan mata. Warna hijau terhampar dengan indahnya. Saya mengabadikan banyak foto dan berlari-lari kecil di sekitar kebun. Jalanan becek selepas hujan membuat sepatu kotor.

Dari ladang, saya kemudian menuju ke rumah warga untuk menanyakan di manakah Tebing Keraton? Salah seorang anak kecil yang saya tanya bilang kalau Teing Keraton sudah kelewatan. Oke, saya akhirnya memutuskan lari pagi dari atas ke bawah. dengan aplikasi NRC, saya menghitung setiap jengkal kaki yang terlewati. Tiba di kilometer ke-3 saya berhenti untuk minum air kelapa seharga 15rebu.

Setelah puas minum, saya melanjutkan berlari sampai ke Pintu Masuk Taman Hutan Raya Djuanda. Saya tertarik untuk masuk ke lokasi Taman. Di dalam, saya berselfie di tengah rimbunnya pohon pinus. Ada rombongan ibu-ibu yang sedang senam. Ada juga rombongan keluarga yang sedang menikmati hammock.

Sekitar jam 9 saya meninggalkan area Tahura dan melanjutkan perjalanan pulang ke Chez Bon Hostel. Tapi di tengah jalan saya mampir ke Pangkas Rambut. Lumayanlah ya dapat bonus pijitan di kepala. Rasa lapar melanda, saya memutuskan ke Kedai Mamah Eha yang berlokasi di depan Gereja Maulana Yusuf. Saya menikmati paket Sunda beserta petai dan sambel zuper. enak!

Pernikahan Reza

 

Sabtu, 7 Januari 2017 yang lalu, saya menyempatkan hadir di pernikahan salah satu sahabat saya, Reza yang digelar di Haurgeulis, Indramayu. Jauh-jauh hari sebelum acara sakral ini berlangsung, saya telah bertekad untuk datang ke nikahannya. “Za, nanti kalau kamu nikah, jangan lupa undang aku ya.” Itu pesanku padanya setahun lalu. Dan, sebulan sebelum pernikahan, Reza mengabari bahwa dia akan menikah.

Reza adalah salah satu sahabat dekat saya dalam setahun ini. Selama hampir 6 bulan ia memberi tebengan tiap pagi. Setelah dia pindah kost, kami masih sering bertemu, baik di kantornya atau di kantorku.

Teriring dia tulus untuk kalian, Reza dan Fuji, barokallohu lakuma wabaroka ‘alaikuma wajamaa bainakuma fi khoir. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Amiiin.

 

img20170107103029

Menuju Puncak Bintang

Ahad kemarin, 15 Januari 2017 saya jalan-jalan ke Bukit Moko Puncak Bintang. Betemankan abang gojek, kami berangkat dari Chez Bon Hostel di Jalan Braga menuju Bukit Moko sekitar jam 05.30 WIB. Sebelum sampai di lokasi, saya diajak main ke rumah abang gojek untuk berganti motor gede. Abang bilang kalau pakai motor kecil nggak akan sanggup mencapai Puncak Bintang.

 

Akhirnya, kami berhasil mencapai Puncak Bintang. Untuk masuk ke areal, kami diwajibkan membayar tiket masuk seharga Rp 15.000,- per orang. Di dalam kita bisa puas berfoto di areal Hutan Pinus ataupun naik ke Dermaga Bintang. View Bandung Kota yang dikelilingi deretan

pegunungan tampak indah. Cocok buat kalian yang mau prewedding atau sekadar melepas penat. Cusss

Gunung Prau

Yeay!! Liburan Natal 2016 kali ini berkesempatan naik gunung lagi. Lagi? iya, lagi…. sebulan ini udah 2 kali lho naik gunung. Mau jadi apa hidupku ini?

Okay, pendakian kali ini saya bergabung dengan kedua Bu Lik saya, Triyani dan Kasiani serta 4 orang lainnya, Bang Aank, Bang Noenk, Mbak Liza, dan Aa’ Hadi.

Singkat kata singkat cerita pendakiannya berjalan menyenangkan. Trek Pathak Banteng benar-benar bikin happy. Jalurnya sudah jelas banget kok. Tinggal lurusss selurus rambut Mbak Anggun. Start dari basecamp sekitar jam 09.30, sampai di Puncak jam 13.00 lewat dikit sih. kenapa lama? tentu saja banyak foto.

Sepanjang perjalanan bertemu banyak pendaki lain. Ada rombongan ABG gahul yang kita semangatin. “Semangat kakak!” eh, mereka nyahut… semangat saja tidak cukup, Kak. ahahaha… iyasih, butuh energi ekstra coy. ada lagi pendaki yang bilang, 5 menit lagi sampai. Iya, sampai sesampainya aja .

Begitu sampai di tenda, menyiapkan bahan untuk masak-masak. Saya males keluar tenda karena saking dinginnya udara. Malam cuma keluar buat buang air kecil.

And …. keesokan harinya dapat Golden sunrise!! Inilah beberapa foto keindahan dari Puncak Prau. Kalau sudah begini, yakin betah di rumah aja?

Pendakian Gunung Guntur 2-4 Desember 2016

2-4 Desember 2016, saya bergabung dengan kedua Bu Lik saya, Triyani dan Kasiani mengikuti trip ke Gunung Guntur. Saya juga mengajak sahabat saya, Uda Rio. Kami berangkat dari Jakarta  hari Jumat tengah malam sekitar pukul 22.30 dari meeting point di Pom Bensin Palmerah. Naik mobil tronton TNI dengan 28 orang lainnya. Uyel-uyelan udah kayak sarden yah. Singkat cerita, abang sopir mengendarai tronton dengan kecepatan maksimeum. Kami tiba di Garut, pada hari Sabtu dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Karena lapar, saya memesan indomie goreng di warung Bu Tati. Beberapa peserta melanjutkan tidur ayam yang tertunda sepanjang perjalanan Jakarta – Garut.

Pendakian dimulai sekitar pukul 05.00 WIB.  Sepanjang perjalanan banyak view menarik dan menjadi objek foto yang instagramable. Kami tiba di Pos 3 sekitar pukul 09.30 WIB. Lega rasanya melewati semak belukar dan trek yang cukup sulit. Kami pun beristirahat menuju tenda yang telah disiapkan Panitia. Sempat tidur sebentar, acara dilanjutkan dengan masak-masak untuk makan siang. Makan siang ala kadarnya: nasi, sop, tempe goreng, dan ikan asin serta sambal yang dibawa Bu Lik saya. Makan apa aja rasanya enak kalau di gunung. Malam harinya kami duduk-duduk menikmati pemandangan Kota Garut dari ketinggian. Kerlap-kerlip lampu membuat romantisme malam minggu tersendiri. Kami bercanda tawa sampai sekitar jam 20.00 saat makan malam siap.

Jam 02.30 hari Minggu pagi kami dibangunkan untuk bersiap menuju Puncak. Saya sempatkan ke kali untuk cuci muka, sikat gigi, dan berwudhu. Udara dingin menyeruak. Sekitar pukul 03.30 kami berangkat menuju Puncak. Dengan bantuan headlamp, kami mendaki dalam gelap dengan pelan-pelan melewati jalanan berkerikil nan licin. Khawatir terpeleset dan terperosok ke jurang sih ya.  Azan subuh terdengar di tengah perjalanan. Saya menyempatkan sholat di antara rerumputan dengan posisi miring. Selepas sholat, saya mengejar teman-teman dan melanjutkan pendakian. Matahari mulai memancarkan sinarnya saat kami tiba di puncak. Sunrise. Alhamdulillah… berkesempatan untuk menikmati indahnya lukisan alam Yang Mahakuasa. Di atas, kami mengambil banyak foto untuk mengabadikan momen. Kami juga sempat merekam video ala Mannequin Challenge yang sedang kekinian. Sekitar jam 09.00 kami turun, kembali ke tenda di Pos 3. Perjalanan turun tak kalah susah dengan perjalanan naik. memang sih saya bisa meluncur/prosotan di kerikil. Tapi, beberapa kali saya terpeleset…hampir kebablasan.  Sampai di pos, saya mandi di kali, ganti baju dan kembali ke tenda. Menu sarapan kali ini enak banget, sarden, mie goreng, dan kering tempe.

Jam 11 kami turun dari Pos 3. Sekitar jam 13 kami sampai di basecamp.  Mandi, istirahat, sholat, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke terminal Guntur naik colt buntung. Mengenang zaman SD. Bahagia. Kami kembali ke Jakarta dengan bus Primajasa jurusan Garut – Lebakbulus. Saya turun di Pasarrebo sekitar pukul 21.00. Terima kasih, abang-abang Panitia dan teman-teman baik selama perjalanan. Seampai jumpa di trip selanjutnya. Insyaallah.

 

 

Oeang Run 2016

Jumat, 28 Oktober 2016 saya mengikuti Lomba Lari dalam rangka peringatan Hari Oeang Republik Indonesia yang ke-70 bertajuk “Oeang Run 2016” bertempat di Lapangan Upacara Kementerian Keuangan, Jalan Lapangan Banteng Timur, Jakarta Pusat. Penggagas acara ini adalah komunitas lari BA015Runners yang pengurus intinya merupakan para pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan.  Peserta Oeang Run kali ini berjumlah sekitar 360 orang yang terdiri dari para pegawai Kementerian Keuangan dan mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN.

Dari kantor saya, Sekretariat Pengadilan Pajak, ada 5 peserta yang ikut, yaitu saya, Arifin, Rio, Akmal, dan Dewi. Kami tergabung dalam grup Tax Court Runners.Kehadiran kami mendapatkan support dari Sekretaris Pengadilan Pajak yang menerbitkan surat tugas bagi kami dan membebaskan kami dari kewajiban mengisi daftar hadir elektronik pada pagi hari. Alhamdulillah.

Acara dimulai pada pukul 06.30 WIB, dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan, Bapak Marwanto. Selepas dibuka, kami bersama-sama menyanyikan Lagu Indonesia Raya, berdoa, dan melakukan pemanasan.Tibalah pada saatnya start dimulai. kami bersaing dengan kekuatan masing-masing.
Melewati rute biasa, start dari Lapangan Upacara, keluar memutari Lapangan Banteng, masuk ke Taman, keluar lagi, menyusuri sepanjang jalan depan Hotel Borobudur, kemudian masuk ke kompleks gedung Kemenko Perekonomian, naik jembatan penyeberangan, memutari kompleks gedung Djuanda, menuju Gedung Sutikno Slamet, berputar di depan gedung Direktorat Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko, lurus ke depan gedung Badan Kebijakan Fiskal, belok lagi ke Dhanapala, lurus ke Djuanda, naik jembatan penyeberangan lagi, memutari gedung Otoritas Jasa Keuangan, lurus sampai gedung Perbendaharaan, dan kembali lagi ke Lapangan Upacara untuk finish. Jarak yang ditempuh sekitar 4,5 km. Adalah sahabat saya, Roy yang berhasil menjadi Juara 1 pada lomba Oeang Run 2016. Roy yang merupakan pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai berhasil finish tercepat dengan catatan waktu 9 menit. Saya sendiri finish peringkat 20-an dengan catatan waktu sekitar 27 menit.

Selamat Hari Oeang yang ke-70! Run, find the new you!

Perjalanan Menyembuhkan Luka

14670735_10211265442422834_8739611934310599346_nCvX-oiTUIAAhrdD.jpg large.jpgSabtu dan Minggu kemarin, 22-23 Oktober 2016, saya kembali menyambangi Kota Bandung, kota yang penuh kenangan, bersama teman saya, Farhan. Rencana perjalanan ke Bandung ini telah kami sepakati sejak sebulan yang lalu. Ketika itu, Farhan yang baru saja putus dari pacarnya mengajak saya untuk jalan-jalan singkat ke Bandung dalam rangka mengobati luka hatinya. Saya menyetujuinya karena saya ingin mengurangi beban yang dia pikul. Bukankah meringankan beban orang lain itu berpahala?

Singkat kata singkat cerita, hari yang ditunggu pun tiba. Tiket telah saya pesan untuk pulang-pergi sebulan yang lalu. Yang saya ingat, kami akan naik kereta jam 16.00. Saya tiba di Stasiun Gambir sekitar Pukul 15.00 WIB dan langsung menuju ke mesin check in. Namun ternyata, usut punya usut, email yang saya peroleh dari tiket.com hanya berisi tiket kembali dari Bandung ke Jakarta, sementara tiket berangkat dari Jakarta ke Bandung belum ada. Agak panik, akhirnya saya menuju ke Customer Service. Saya dilayani dengan sangat baik dan akhirnya mendapatkan nomor booking. Jreng, ternyata tiket kami untuk keberangkatan jam 15.30. Untung saja masih ada waktu sekitar 10 menit. Segera saja kami menuju ke peron dan naik ke kereta Argo Parahyangan.

Perjalanan ke Bandung ditempuh dalam waktu 3 jam lebih sedikit. Kami tiba di Stasiun Bandung sekitar pukul 18.30. Yang kami lakukan pertama kali adalah keluar dari Stasiun untuk naik angkot menuju Dago. Kami memang belum memesan kamar penginapan. Jadi, kami berinisiatif untuk langsung pesan on the spot. Sesuai dengan pengalaman terdahulu, saya mengajak Farhan menuju Mess Babinkum TNI di belakang Superindo Dago. Sebenarnya, saya telah berusaha menghubungi nomor telepon Mess, naumun entah kenapa nomor tesebut tidak aktif. Mungkin sudah ganti.

Turun dari angkot, disambut gerimis mengundang, kami berjalan ke Mess. Sampai di gerbang, saya menyapa penjaga Mess dan menanyakan apakah masih tersedia kamar kosong. Ah, kecewa. Ternyata sudah full booked. Kami lantas menuju Superindo untuk berteduh sambil memesan penginapan lain secara online. Via pegipegi.com, akhirnya kami mendapatkan kamar di Chez Bon Hostel yang beralamat di Jalan Braga. Saya pun membayar biaya penginapan melalui ATM di Superindo. Setelah mendapatkan email konfirmasi dari pegipegi.com, kami pun memesan GrabCar untuk menuju lokasi penginapan.

Tiba di Chez Bon, kami langsung menuju resepsionis di lantai 2. Mas-mas resepsionisnya cukup ramah melayani kami. Selanjutnya, kami diantar ke lantai 3. Kami mendapatkan kamar berbentuk asrama yang berkapasitas 16 orang. uuu…. ada 8 ranjang bertingkat 2. Saat kami masuk, baru ada 1 orang penghuni. Belakangan, semakin malam, penghuni kamar bertambah. Mumpung sepi, saya foto-foto di dalam kamar. Sementara saya tiduran, Farhan keluar kamar dan belakangan dia yang telah mendapatkan teman baru mengajak keluar untuk makan malam. Saya pun berkenalan dengan teman barunya, Zega.

Selepas membersihkan diri, kami bertiga makan malam di Bandros Cafe yang terletak persis di sebelah Chez Bon hostel. Saya memesan steak dan lemon tea. Zega bercerita bahwa dia masih kuliah di UKI sambil bekerja. Berasal dari keluarga besar dan menyukai traveling. Selepas makan malam, kami kembali ke hostel. Karena rasa kantuk yang menyerang dan faktor usia yang tak bisa dibohongi, saya menolak ajakan Farhan dan Zega untuk hang out. Jadilah mereka berdua menghabiskan malam minggu nan panjang bersama. Sekitar jam 3 dinihari, Farhan baru kembali ke kamar.

Paginya, saya memutuskan lari pagi sendirian ke Alun-Alun. Di Alun-alun, saya sempat beberapa kali foto dengan bantuan Mas-mas yang juga tengah menikmati suasana Alun-Alun. Dari sana, saya hendak main ke Tebing Keraton, tapi saya salah memesan gojek. Ah… jadinya saya bayar 6ribu ke abang gojek dengan sia-sia. Setelah itu, saya mengubah tujuan ke Teras Cikapundung saja.

Pemandangan di Teras Cikapundung cukup bagus. Saya benar-benar angkat topi pada keseriusan Pemerintah Kota Bandung yang mampu menghadirkan taman-taman cantik dan indah di seluruh wilayah kota Bandung. Puas keliling teras Cikapundung, saya kemudian berjalan kaki menuju Sabuga (Sasana Budaya Ganesha). Untuk masuk ke sabuga, saya diwajibkan membayar 4.000 rupiah. Okelah, tak apa, yang penting bisa puas keliling-keliling venue dan melihat-lihat aktivitas orang-orang Bandung yang ingin hidup sehat.

Jam 10-an saya kembali ke hostel. Sempat tidur sejenak saking capeknya. Bangun-bangun, saya kaget bercampur kesal mendapati Farhan tengah asyik merokok di lobby bersama Zega.  Ah, mungkin dia butuh pelarian. Selepas mandi dan sholat, kami check out. Berjalan kaki ke alun-alun, menyusuri Jalan Asia Afrika, berlanjut ke Pasar Baru, saya membeli pisang goreng untuk pengganjal perut. Kami lantas naik angkot ke Dago untuk mencari tempat makan siang. Kami turun di depan Hanamasa. Namun, karena waiting list yang panjang, kami pindah tempat. Pada akhirnya, kami memutuskan makan di Kedai Mamah Eha. Kesan pertama masuk ke kedai, saya langsung suka karena pelayannya yang masih training, cakep. Saya mengamati teko yang berfungsi sebagai kobokan. Di sana juga tersedia toilet dan mushola. Saya memesan Pulut Mango sebagai dessert serta Masakan Sunda + pete sebgaai maincourse. Berdua kami habis 120 ribu. Worth it!

Selesai makan, kami bergegas ke Stasiun Bandung. Awalnya, kami memesan gojek. Namun, abang gojeknya nggak tahu lokasi kami. Lelah menunggu, akhirnya saya cancel. Kami berdua berjalan kaki ke Gedung Sate sebagai landmark yang mudah dikenali oleh abang gojek. Dalam perjalanan ke Gedung Sate, sempat pula saya meminta abang tukang parkir untuk mengantarkan kami menuju Stasiun, namun karena dia minta 50ribu, saya menolaknya. Pada akhirnya, kami beruntung mendapatkan abang gojek yang andal. Beberapa menit sebelum keberangkatan kereta, kami tiba di Stasiun Bandung. Lega! Tak sempat membeli oleh-oleh,  kami kembali ke Jakarta dengan beragam cerita. Semoga hati yang luka telah terobati. Selamat membuka lembaran baru yang bebih berwarna, lebih bermakna, dan lebih berbahagia.

Herbalife Run 2016

Minggu, 9 Oktober 2016, saya berkesempatan mengikuti event lari bertema kesehatan (yaiyalah, namanya lari pasti bertema kesehatan) yang berjudul Herbalife Run 2016 di Indonesia Convention Esibition (ICE) Bumi Serpong Damai, Tangerang. Beruntung sekali saya mendapatkan slot gratisan dari rekan pelari yang tergabung di komunitas Banteng Runners. Adalah Mas Solihin yang sering dipanggil Pamela -gegara pernah lari-lari manja di pantai- yang menghadiahkan tiket gratisan tersebut. Untuk mendapatkan tiket tersebut, kami berkompetisi di grup Banteng Runners. Siapa pun yang #setorun terbanyak (artinya lari paling banyak dan dilaporkan melalui grup WA Banteng Runners), dialah yang berhak mendapatkan slot tersebut. Yeaaahhh…. after hardship come ease, saya berhasil menjadi penyetor lari terbanyak dengan catatan lari sejauh 14K. Unggul 2K dari peringkat kedua. J

Flash back dulu ya…. ke tanggal 7 Oktober.  

Pada tanggal 7 Oktober atau H-2 penyelenggaraan race, saya menerima racepack dari Mas Solihin. Beliau yang bekerja di kawasan Lapangan Banteng mengirimkan melalui GoSend. Ongkos kirim sudah ditanggung, jadi saya terima beres  saja. Rezeki anak soleh emang yah.

Langsung ke tanggal 9 Oktober.

Kehebohan mengikuti race sudah dimulai sejak dini hari karena saya memilih naik shuttle bus dari Arion Rawamangun. (ini setelah ngobrol-ngobrol dengan Mas Bagus Ochid, anggota Banteng Runners, yang juga ikut race). Jam 03.00 setelah mandi, saya berangkat dari kos bertemankan abang gojek. Was-was juga ya, dini hari naik gojek. Tapi alhamdulillah abangnya baik hati. Nyampai di Arion dengan selamat. Di sana ketemu beberapa peserta lain. Ada ibu-ibu bawa 2 anak nya yang turun di kategori Junior. Ada mas-mas yang turun di kategori 21K. Belakangan, muncul Mas Bagus. Mas Bagus akan turun di kategori 21K Relay (satu tim bertiga, jadi setiap anggota tim masing-masing lari sejauh 7K). Sementara itu, saya turun di kategori 5K.

Jam 03.30 bus meluncur ke ICE. Dan, alhamdulillah nggak sampai sejam sudah tiba di ICE. Berhubung sudah masuk waktu Subuh, saya ikut jamaah Subuh di lobby ICE bersama puluhan peserta lain.

Seperti yang telah dijadwalkan, start dibagi menjadi 3 sesi, yaitu pada jam 05.00 pagi untuk peserta 21K; Jam 05.15 untuk peserta 10K; dan Jam 05.30 untuk peserta 5K. Artinya, masih ada waktu setengah jam lebih sebelum start 5K. Saya melakukan pemanasan ringan dengan meregangkan tangan, kepala, kaki, pundak, lutut, kaki, lutut, bergantian sampai capek. (hahaha, belum lomba udah capek).

05.30 start! saya berlari di garda depan dengan pace yang lebih kencang dari biasanya. Kilometer pertama, banyak peserta yang mulai berjalan. Menginjak kilometer kedua, makin banyak yang jalan. Saya baru minum di kilometer 2,5 pas ada waterstation. Saya mulai galau, mana nih fotografer? kok nggak nngol-nongol? Kegalauan saya terjawab di kilometer ketiga saat melihat abang fotografer mangkal. Puas berpose, saya kemudian melanjutkan pelarian sampai garis finish. Jam 05.58 saya menginjakkan kaki di garis finish. Alhamdulillah, finish strong!

skip skip….

Senin, 10 Oktober 2016 kurang lebih jam 19.00, foto resmi dari Panitia diunggah ke Facebook. Yeah, akhirnya setelah penantian panjang, dapat juga foto ganteng saya. 🙂 Selanjutnya, setelah melihat catatan waktu resmi dari Panitia, saya bergembira ria karena dinyatakan finish di peringkat ke-15 untuk kategori Umum Putra 5K. Allahu akbar!

 

 

Mualaf

Sore ini, 9 Muharram 1438 H atau yang bertepatan dengan tanggal 10 Oktober 2016, bertempat di Masjid Al Amin, Pak Thomas mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Ketua Rohis Pengadilan Pajak, Bapak Haryono dengan disaksikan oleh jamaah sholat Asar. Ketika ditanya apakah memilih Islam atas dasar paksaan atau tekanan atau ada iming-iming? Dia menjawab Tidak. Murni karena hati nurani.

Setelah mengucapkan 2 kalimat syahadat, beliau resmi menjadi muslim dan kami menyalaminya. Saya terharu dan merasa sangat senang mendapatkan Saudara seiman yang baru.

YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIKA (wahai Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu). Sesungguhnya, tak ada paksaan dalam Islam.