Maybank Bali Marathon 2016

Belum lama berselang, tepatnya pada hari Minggu, 28 Agustus 2016, saya mengikuti event lari berstandar internasional yang bertajuk “Maybank Bali Marathon 2016” bertempat di Gianyar, Bali. Event ini diikuti oleh 7.500 pelari dari 43 negara. Tingginya animo peserta membuat Panitia menambah kuota peserta dari tahun sebelumnya yang berjumlah 5.000 pelari menjadi 7.500 pelari. Jumlah peserta tersebut terbagi dalam 6 kategori, yaitu Full Marathon, Half Marathon, 10K, 400m anak-anak, 100m anak-anak, dan 10K wheelchair. Saya turun di kategori Full Marathon bersama 2.300 pelari lainnya.

Meskipun start dijadwalkan pada pukul 05.00 WITA, atmosfer Bali Marathon mulai terasa sejak Pukul 03.30 WITA begitu saya tiba di lokasi. Sambil menunggu start, saya berbincang dengan 2 teman saya, Sam dan Harry. Kami memperhatikan dandanan peserta lain. Ada yang hits banget, ada pula yang biasa saja. Saya sendiri tampil sederhana dengan celana pendek warna hitam. Tampak pula beberapa pelari perempuan yang mengenakan hijab. Saya juga melihat Ibnu Jamil yang sedang diajak selfie oleh rekan pelari lain. Saya menyesal karena meninggalkan telepon seluler di tempat penitipan tas. Gagal selfie bareng deh.

Sepuluh menit menjelang start, kami bersama-sama mengumandangkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Selanjutnya, “Viva La Vida” dari Coldplay turut membawa peserta larut dalam euforia. Tepat pukul 05.00 WITA start berlangsung, para pelari Kenya melesat meninggalkan rombongan dengan kecepatan berlari 3 menit per kilometer (pace 3). Saya, Sam, dan Harry berlari dengan pace santai, pace 8.

Kilometer pertama dapat kami lewati dengan mudah. Yang mengherankan, sudah ada pelari yang berjalan di kilometer kedua. Hello, masih ada 40 kilometer lagi, Mbak! Saya baru berpisah dengan dua rekan saya ketika melihat beberapa pelari tengah menjalankan ibadah sholat di tepi jalan. Saya pun sholat dengan alas ala kadarnya. Alas tersebut dipinjami pelari lain. Ah, indahnya ukhuwah saya rasakan. Saya kemudian melanjutkan berlari dengan pace 7 untuk mengejar kedua teman saya. Namun, karena kondisi jalanan yang masih gelap, saya gagal menemukan mereka.

10 kilometer pertama dapat saya tempuh dengan lancar. Kaki masih enak, tenaga masih full. Jam di tangan menunjukkan Pukul 06.14 WITA saat saya melewati check point pertama. Selepas Jalan Ida Bagus Mantra, rute selanjutnya berbelok ke Kampung Ketewel. Warga desa serta anak-anak sekolah bersorak memberikan semangat kepada pelari yang melintas. Gamelan dimainkan dengan sangat indah. Bak juara Olimpiade, saya menyalami setiap anak yang berjejer rapi di pinggir jalanan Kampung.

Jam menunjukkan pukul 06.53 WITA saat saya menginjakkan kaki pada kilometer 15 sekaligus check point kedua. Pace saya masih bertahan di pace 7. Beberapa pelari mulai berguguran di tengah jalan. Rasa lapar mulai melanda saat melewati kilometer 20 sekaligus check point ketiga. Pace saya melambat. Saya hampir memutuskan untuk mampir ke warung. Namun, ternyata beberapa meter kemudian, terdapat waterstation. yeay, ada pisang. Saya mengambil 2 buah pisang dan minum 2 gelas minuman isotonik. Alhamdulillah, kenyang!!

Ketika sedang makan pisang, saya bertemu Prima, rekan kuliah saya dahulu. Kami kemudian berlari bersama kurang lebih 500 meter, sebelum akhirnya saya mempersilakannya untuk berlari lebih kencang. Saya mulai merasa agak berat berlari. Sepertinya ini akibat kekenyangan makan dua pisang.

Rasa sakit menyerang telapak kaki dan sekitar paha sehingga memaksa saya separuh berlari, separuh berjalan. Praktis, sejak kilometer 21, pace saya menurun drastis. Sementara itu, matahari semakin menyengat, suhu badan saya meningkat. Keringat semakin bercucuran. Terngiang di kepala saya tulisan Haruki Murakami yang mengatakan bahwa dia tidak pernah berjalan sedikit pun sepanjang marathon. Ah, saya merasa gagal.

Saya tiba di kilometer 34 pada pukul 10.00 WITA. Lima jam berlalu padahal masih tersisa 8 kilometer lagi. Di sini saya bertemu dengan teman saya, Ari yang tengah beristirahat sambil memegangi kakinya yang kram. Kami bersalaman dan kemudian berlari bersama hingga kilometer 35 saat tanjakan setinggi 119 meter menghadang dan memisahkan kami. Selepas tanjakan yang tajam, datanglah turunan yang landai. Sambil menahan sakit, saya memanfaatkan kesempatan ini untuk berlari kembali.

Tepat Pukul 11.11 WITA saya berhasil menginjakkan kaki di garis finish disambut banyak fotografer. Selepas finish, saya menerima medali kebanggaan dan kaos finisher dengan rasa campur aduk sampai tak kuasa membendung air mata. 42,195 kilometer, cyin!

Sambil menunggu Sam dan Harry finish, saya berbaring di rerumputan untuk berteduh. Sekitar 15 menit kemudian, Harry finish. Sam baru finish pada pukul 11.57 WITA. Kami bergantian foto di depan papan besar. Usai berfoto, kami memanfaatkan terapi air es yang disediakan. Terapi ini cukup ampuh untuk menghilangkan nyeri di kaki.

Dengan kondisi badan remuk redam, kami berjalan gontai menuju lokasi shuttle bus yang akan mengantarkan kami kembali ke Kuta. Berjalan sejauh 1,5 km di terik mentari pukul 12.30 WITA merupakan siksaan. Rasanya ingin melepaskan kaki dan meninggalkannya. Namun, tentu saja kami bangga dapat mengalahkan diri sendiri. Saya percaya bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Berani mencoba?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s