Perjalanan Menyembuhkan Luka

14670735_10211265442422834_8739611934310599346_nCvX-oiTUIAAhrdD.jpg large.jpgSabtu dan Minggu kemarin, 22-23 Oktober 2016, saya kembali menyambangi Kota Bandung, kota yang penuh kenangan, bersama teman saya, Farhan. Rencana perjalanan ke Bandung ini telah kami sepakati sejak sebulan yang lalu. Ketika itu, Farhan yang baru saja putus dari pacarnya mengajak saya untuk jalan-jalan singkat ke Bandung dalam rangka mengobati luka hatinya. Saya menyetujuinya karena saya ingin mengurangi beban yang dia pikul. Bukankah meringankan beban orang lain itu berpahala?

Singkat kata singkat cerita, hari yang ditunggu pun tiba. Tiket telah saya pesan untuk pulang-pergi sebulan yang lalu. Yang saya ingat, kami akan naik kereta jam 16.00. Saya tiba di Stasiun Gambir sekitar Pukul 15.00 WIB dan langsung menuju ke mesin check in. Namun ternyata, usut punya usut, email yang saya peroleh dari tiket.com hanya berisi tiket kembali dari Bandung ke Jakarta, sementara tiket berangkat dari Jakarta ke Bandung belum ada. Agak panik, akhirnya saya menuju ke Customer Service. Saya dilayani dengan sangat baik dan akhirnya mendapatkan nomor booking. Jreng, ternyata tiket kami untuk keberangkatan jam 15.30. Untung saja masih ada waktu sekitar 10 menit. Segera saja kami menuju ke peron dan naik ke kereta Argo Parahyangan.

Perjalanan ke Bandung ditempuh dalam waktu 3 jam lebih sedikit. Kami tiba di Stasiun Bandung sekitar pukul 18.30. Yang kami lakukan pertama kali adalah keluar dari Stasiun untuk naik angkot menuju Dago. Kami memang belum memesan kamar penginapan. Jadi, kami berinisiatif untuk langsung pesan on the spot. Sesuai dengan pengalaman terdahulu, saya mengajak Farhan menuju Mess Babinkum TNI di belakang Superindo Dago. Sebenarnya, saya telah berusaha menghubungi nomor telepon Mess, naumun entah kenapa nomor tesebut tidak aktif. Mungkin sudah ganti.

Turun dari angkot, disambut gerimis mengundang, kami berjalan ke Mess. Sampai di gerbang, saya menyapa penjaga Mess dan menanyakan apakah masih tersedia kamar kosong. Ah, kecewa. Ternyata sudah full booked. Kami lantas menuju Superindo untuk berteduh sambil memesan penginapan lain secara online. Via pegipegi.com, akhirnya kami mendapatkan kamar di Chez Bon Hostel yang beralamat di Jalan Braga. Saya pun membayar biaya penginapan melalui ATM di Superindo. Setelah mendapatkan email konfirmasi dari pegipegi.com, kami pun memesan GrabCar untuk menuju lokasi penginapan.

Tiba di Chez Bon, kami langsung menuju resepsionis di lantai 2. Mas-mas resepsionisnya cukup ramah melayani kami. Selanjutnya, kami diantar ke lantai 3. Kami mendapatkan kamar berbentuk asrama yang berkapasitas 16 orang. uuu…. ada 8 ranjang bertingkat 2. Saat kami masuk, baru ada 1 orang penghuni. Belakangan, semakin malam, penghuni kamar bertambah. Mumpung sepi, saya foto-foto di dalam kamar. Sementara saya tiduran, Farhan keluar kamar dan belakangan dia yang telah mendapatkan teman baru mengajak keluar untuk makan malam. Saya pun berkenalan dengan teman barunya, Zega.

Selepas membersihkan diri, kami bertiga makan malam di Bandros Cafe yang terletak persis di sebelah Chez Bon hostel. Saya memesan steak dan lemon tea. Zega bercerita bahwa dia masih kuliah di UKI sambil bekerja. Berasal dari keluarga besar dan menyukai traveling. Selepas makan malam, kami kembali ke hostel. Karena rasa kantuk yang menyerang dan faktor usia yang tak bisa dibohongi, saya menolak ajakan Farhan dan Zega untuk hang out. Jadilah mereka berdua menghabiskan malam minggu nan panjang bersama. Sekitar jam 3 dinihari, Farhan baru kembali ke kamar.

Paginya, saya memutuskan lari pagi sendirian ke Alun-Alun. Di Alun-alun, saya sempat beberapa kali foto dengan bantuan Mas-mas yang juga tengah menikmati suasana Alun-Alun. Dari sana, saya hendak main ke Tebing Keraton, tapi saya salah memesan gojek. Ah… jadinya saya bayar 6ribu ke abang gojek dengan sia-sia. Setelah itu, saya mengubah tujuan ke Teras Cikapundung saja.

Pemandangan di Teras Cikapundung cukup bagus. Saya benar-benar angkat topi pada keseriusan Pemerintah Kota Bandung yang mampu menghadirkan taman-taman cantik dan indah di seluruh wilayah kota Bandung. Puas keliling teras Cikapundung, saya kemudian berjalan kaki menuju Sabuga (Sasana Budaya Ganesha). Untuk masuk ke sabuga, saya diwajibkan membayar 4.000 rupiah. Okelah, tak apa, yang penting bisa puas keliling-keliling venue dan melihat-lihat aktivitas orang-orang Bandung yang ingin hidup sehat.

Jam 10-an saya kembali ke hostel. Sempat tidur sejenak saking capeknya. Bangun-bangun, saya kaget bercampur kesal mendapati Farhan tengah asyik merokok di lobby bersama Zega.  Ah, mungkin dia butuh pelarian. Selepas mandi dan sholat, kami check out. Berjalan kaki ke alun-alun, menyusuri Jalan Asia Afrika, berlanjut ke Pasar Baru, saya membeli pisang goreng untuk pengganjal perut. Kami lantas naik angkot ke Dago untuk mencari tempat makan siang. Kami turun di depan Hanamasa. Namun, karena waiting list yang panjang, kami pindah tempat. Pada akhirnya, kami memutuskan makan di Kedai Mamah Eha. Kesan pertama masuk ke kedai, saya langsung suka karena pelayannya yang masih training, cakep. Saya mengamati teko yang berfungsi sebagai kobokan. Di sana juga tersedia toilet dan mushola. Saya memesan Pulut Mango sebagai dessert serta Masakan Sunda + pete sebgaai maincourse. Berdua kami habis 120 ribu. Worth it!

Selesai makan, kami bergegas ke Stasiun Bandung. Awalnya, kami memesan gojek. Namun, abang gojeknya nggak tahu lokasi kami. Lelah menunggu, akhirnya saya cancel. Kami berdua berjalan kaki ke Gedung Sate sebagai landmark yang mudah dikenali oleh abang gojek. Dalam perjalanan ke Gedung Sate, sempat pula saya meminta abang tukang parkir untuk mengantarkan kami menuju Stasiun, namun karena dia minta 50ribu, saya menolaknya. Pada akhirnya, kami beruntung mendapatkan abang gojek yang andal. Beberapa menit sebelum keberangkatan kereta, kami tiba di Stasiun Bandung. Lega! Tak sempat membeli oleh-oleh,  kami kembali ke Jakarta dengan beragam cerita. Semoga hati yang luka telah terobati. Selamat membuka lembaran baru yang bebih berwarna, lebih bermakna, dan lebih berbahagia.

One thought on “Perjalanan Menyembuhkan Luka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s